Pandemi Reduksi Pertumbuhan Ekonomi dan Mental Warga Palestina

Setelah Gaza mengumumkan kasus kematian pertama karena Covid-19 pada akhir Mei lalu, penurunan pertumbuhan ekonomi juga menjadi hal yang mengkhawatirkan selamat pandemi.

Pandemi Reduksi Pertumbuhan Ekonomi dan Mental Warga Palestina' photo
Anak-anak Palestina menjadi pihak yang paling terdampak konflik kemanusiaan di Palestina. (ACTNews)

ACTNews, GAZA, TEPI BARAT – Sedikitnya 630 warga Palestina terkonfirmasi tertular Covid-19 per 2 Juni. Sebanyak 179 kasus tercatat di Yerusalem Timur, 61 di Gaza, dan 390 di Tepi Barat. Kematian pertama di Gaza tercatat pada 23 Mei lalu.

Melansir dari Reliefweb, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 57 ribu sampel telah diperiksa. Hampir 23 ribu warga Palestina dikarantina di rumah berfasilitas khusus untuk memantau gejala mereka. Per 2 Juni pula, kumulatif warga Palestina yang menjalani karantina berjumlah 93.916 jiwa.

Berdasarkan laporan terakhir World Bank, pandemi juga berdampak pada penurunan ekonomi di Tepi Barat hingga 7,6 persen. Mereka pun memperingatkan penuruan pendapatan per kapita dan meningkatnya jumlah pengangguran dan kelaparan. Kemiskinan di Tepi Barat yang terokupasi disebut bisa menjadi dua kali lipat saat pandemi ini.

Dilansir dari Al Jazeera, keadaan ini diperkirakan membuat jumlah rumah tangga di Tepi Barat yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat, dari 14 persen menjadi 30 persen. Selama Covid-19, warga Palestina tidak dapat menyeberang ke Israel untuk bekerja.Bank Dunia memperkirakan tingkat kemiskinan di Gaza akan melonjak menjadi 64 persen tahun ini, padahal sebelum pandemi kemiskinan di Gaza sudah mencapai 53 persen.

Selain ekonomi, pandemi juga berdampak pada kesehatan mental warga Palestina. Dilansir dari Reliefweb, Pakar Kesehatan Mental Dr. Yasser Abu Jamei menggambarkan tantangan bagi orang-orang di Gaza yang menghadapi Covid-19. Masalah sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga, blokade ekonomi, dan konflik yang berkelanjutan menghantui anak-anak dan ibu rumah tangga.

“Sebelum Covid-19, orang-orang sudah menghadapi tekanan mental yang sangat besar. Sudah satu dari empat anak di Gaza membutuhkan semacam dukungan psikologis,” tulis Reliefweb.[]


Bagikan