Pangan dan Hunian Layak Mendesak Dipenuhi untuk Warga Cipandawa

Warga Kampung Rancanangka saat ini direlokasi ke Blok Cipandawa, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Walau telah tinggal di tempat yang lebih aman, keadaan mereka masih memprihatinkan. Berbagai bantuan masih diperlukan mereka menjelang 8 bulan pascabencana dan adanya pandemi corona.

Pangan dan Hunian Layak Mendesak Dipenuhi untuk Warga Cipandawa' photo
Anak di Blok Cipandawa, Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor sedang bermain bola di lahan relokasi. Tempat tersebut jadi tempat baru bagi sekitar 800 jiwa warga Rancanangka yang rumahnya masuk zona merah bencana. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Dari kejauhan terlihat bukit yang cokelat akibat tak ditumbuhi tanaman. Di atas tanah bukit itu, berdiri bangunan-bangunan tempat tinggal warga. Atapnya berbahan asbes, tapi tak sedikit juga rumah-rumah yang beratap terpal biru. Ketika didekati, tempat tersebut cukup padat dengan tempat tinggal warga. Blok Cipandawa namanya, lokasi relokasi bagi warga Kampung Rancanangka, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor yang kampungnya masuk zona merah bencana tanah longsor.

Kamis (23/7), ACTNews berkesampatan masuk ke blok relokasi yang masuk wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak tersebut. Dari jalan raya penghubung Jasinga-Cipanas, butuh waktu 1 hingga 1,5 jam menggunakan kendaraan roda empat untuk tiba di Cipandawa. Jalannya pun tak selalu mulus, butuh kehati-hatian karena beberapa titik jalan aspalnya mengelupas serta tak ada pembatas dengan jurang yang berada tepat di pinggir jalan. Jika malam tiba, penerangan sangat minim, apalagi saat melewati Kawasan Hutan Penelitian Haurbentes.

Ope, salah satu warga mengatakan, warga mulai menempati Blok Cipandawa sekitar Februari lalu setelah meninggalkan salah satu sekolah di Kampung Cipugur agar fungsinya dapat kembali normal. Di lahan Blok Cipandawa, belum tersedia rumah saat itu, warga mendirikan tenda pengungsian hingga tiga bulan lamanya. Baru sekitar April, rumah permanen mulai terbangun walau dalam kondisi seadanya.

“Warga bangun rumah di sini (Cipandawa) secara swadaya. Kami cicil bangunnya kalau ada bantuan bahan bangunan atau pas ada rezaki. Ada bantunan hunian tinggal pakai, tapi kurang nyaman untuk kami,” jelasnya, Kamis (23/7).


Blok Cipandawa, Cileuksa, Sukajaya dilihat dari atas. Tempat tersebut merupakan area relokasi dari Kampung Rancanangka yang masuk zona merah bencana longsor. (ACTNews/Eko Ramdani)

Terdapat 212 keluarga dengan 800 jiwa menempati Blok Cipandawa. Tak semua rumah sudah bertembok bata serta atap genting atau asbes. Sebagian rumah masih beratapkan terpal dan dibuat panggung agar tak merasakan dingin dan lembabnya tanah saat cuaca sedang tak mendukung. Sektor pertanian dan perkebunan jadi sumber pemasukan ekonomi mereka. Saat ini tak ada perantau dari Cipandawa, pandemi Covid-19 yang menjadi alasan. Ope mengatakan, pengangguran banyak menghuni kampung tersebut sejak bencana alam dan disusul pandemi.

Fasilitas umum pun masih terbatas. Untuk sekolah baru ada tingkat dasar saja yang berdiri. Kelasnya ada dua untuk menampung ratusan siswa enam tingkat. Urusan kesehatan, puskesmas terdekat ada di Jasinga yang jaraknya lebih kurang 13 kilometer, dan rumah sakit terdekat di Leuwiliang. Bangunan tempat ibadah, di Blok Cipandawa hanya ada satu masjid yang berdiri dengan atap terpal dengan kerangka bambu. Hawa panas selalu mengepung tiap siang dan dingin saat malam tiba.

Menjelang delapan bulan pascabencana alam, warga masih membutuhkan bantuan, khususnya pangan. Namun, sejak Maret atau datangnya pandemi, bantuan mulai berkurang. Warga pun harus menyambung kehidupan secara mandiri dengan memaksimalkan potensi kampung yang ada.

Baca juga: Dua Bulan Pascalongsor, Akses Cileuksa Masih Sulit Ditempuh

Mendesak dipenuhi

Sejak awal tahun, warga Cipandawa harus merasakan kondisi kurang baik. Bencana alam belum juga hilang dari ingatan, mereka harus merasakan dampak pandemi Covid-19. Sekarang, mereka masih membutuhkan uluran tangan untuk memenuhi kehidupan dan mendukung aktivitas mereka.

Ope menuturkan, yang paling mendesak untuk dipenuhi saat ini adalah kebutuhan pangan. Pasalnya sejak mulai berkurangnya bantuan pangan, warga pun belum bisa mandiri secara ekonomi. Lahan sawah yang bisa dimanfaatkan untuk sumber pangan mandiri juga ikut longsor saat bencana awal Januari lalu.

“Buat sekarang pangan yang paling mendesak, setelah itu rumah layak. Soalnya banyak rumah atapnya masih terpal, kalau penghuninya anak-anak itu enggak nyaman banget. Kemudian fasilitas kebersihan (MCK), sarana ibadah dan kesehatan serta pipanisasi dari Sumur Wakaf sama mata air di gunung yang jaraknya cukup jauh,” tambah Ope.[]


Bagikan

Terpopuler