Pangan untuk Rohingya, Untaian Kepedulian di Kala Pandemi

Sebelum pandemi Covid-19, pengungsi Rohingya yang terkurung di Rakhine sudah menghadapi kesulitan pangan. Kini di tengah Covid-19 yang meresahkan, pemenuhan pangan pengungsi Rohingya semakin memprihatinkan.

Pangan untuk Rohingya, Untaian Kepedulian di Kala Pandemi' photo
Pengungsi Rohingya di Buthidaung menerima paket pangan pada pertengahan April lalu. Bantuan pangan terus diikhtiarkan para dermawan untuk membantu kehidupan para pengungsi. (ACTNews)

ACTNews, RAKHINE – Sekolah Nyaung Chaung di Buthidaung begitu ramai. Bukan oleh anak-anak dan guru yang sedang melangsungkan kegiatan belajar mengajar, tetapi oleh para pengungsi Rohingya yang terpaksa bermukim di sana.

Ibrahim, salah satu pengungsi yang menempati bangunan sekolah, bercerita, ia telah kehilangan semua, baik pekerjaan maupun tempat tinggal. Ibrahim dan keluarganya harus berpindah dari tempat tinggalnya di Desa Sin Khone Taing, Rathedaung, untuk mendapatkan tempat aman dari ancaman militer.

“Kami tidak pernah mendapatkan bantuan dari mana pun kecuali dari ACT Indonesia. Karena bantuan ini, kami sekarang memiliki cukup makanan untuk keluarga kami. Karena itu kami berdoa untuk ACT terus dapat bekerja untuk masa depan,” kata ayah lima orang anak itu membuka percakapan.

Kelima anak Ibrahim masih di bawah usia 18 tahun. Mereka benar-benar pasrah, tidak ada satu hal pun yang bisa mereka lakukan, terlebih saat wabah Covid-19 seperti saat ini.


Pengungsi Rohingya di Buthidaung menerima paket pangan pada pertengahan April lalu. Bantuan pangan terus diikhtiarkan para dermawan untuk membantu kehidupan para pengungsi. (ACTNews)

Kondisi serupa juga disampaikan Mamad Jamil. Pengungsi asal Desa Sin Khon Taing, Buthidaung, itu kini mengungsi di Desa Pyin Hla. “Saya bekerja sebagai petani ketika saya berada di desa Sin Khon Taing dan sekarang saya adalah pengungsi di sini (Pyin Hla),” kisah Mamad. Ia pun bersyukur atas bantuan pangan dari Aksi Cepat Tanggap yang diterimanya.

ACT mendistribusikan bantuan paket pangan untuk warga Rohingya di Rakhine pada 14-19 April lalu. Bantuan bahan pangan yang berisi sepuluh kebutuhan pokok itu dinikmati 990 jiwa di Buthidaung dan Maudaw, Rakhine merupakan amanah kepedulian Bamuis dan Kitabisa. 

“Sebagian pengungsi di Buthidaung, para pengungsi internal ini tinggal di sekolah-sekolah dengan hanya beralaskan terpal,” cerita Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT. Distribusi paket pangan menjadi wujud konsistensi kepedulian dermawan dalam meredam dampak konflik kemanusiaan yang dialami Rohingya, utamanya di masa pandemi ini.[]


Bagikan

Terpopuler