Parahnya Kekeringan di Indonesia Tahun Ini

Kemarau di tahun 2019 ini berlangsung lebih lama dari tahun sebelumnya. Dampaknya beragam, tak hanya pada ketersediaan air konsumsi, tapi juga pertanian yang sangat berpengaruh pada kondisi perekonomian masyarakat.

Parahnya Kekeringan di Indonesia Tahun Ini' photo
Seorang warga memikul air yang diambil dari kubangan yang ada di irigasi sawah di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi pada Juli lalu. Cibarusah merupakan salah satu wilayah terdampak parah kekeringan di tahun 2019. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BEKASI, YOGYAKARTA  Debu berterbangan di lapangan Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Di samping lapangan itu terdapat kebun yang saat ini kondisi tanamannya mengering. Hujan yang belum juga mengguyur membuat kecamatan di selatan Kabupaten Bekasi ini masih dilanda bencana kekeringan.

Area persawahan padi di sepanjang tepian jalan Cibarusah mengering. Tanahnya retak, tanpa ada aliran air, membuat petani tak bisa bercocok tanam. Kini ratusan hektare lahan persawahan itu dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.

Salah satu warga Cibarusah, Yudi Setiadi, mengatakan, wilayah tempat tinggalnya itu sudah dilanda kemarau sejak awal April 2019. Hari tanpa hujan yang berlangsung selama lebih dari setengah tahun ini membuat sumber air warga seperti sumur dan sungai mengering. “Untuk pertanian sendiri jelas terpengaruh, di Cibarusah masih banyak sawah tadah hujan, sedangkan yang memanfaatkan alir dari aliran sungai pun tidak bisa karena sungai mengering, bahkan sungai besar Cipamingkis pun sampai saat ini debit airnya masih sangat kecil,” ungkap Yudi, Rabu (30/10).

Beberapa desa di Cibarusah memang menjadi langganan kekeringan tiap kali kemarau datang. Sebut saja Desa Ridomanah dan Desa Ridogalih. Akan tetapi di tahun ini kekeringan semakin meluas, bahkan ke desa-desa lain yang tak biasa terdampak parah kekeringan.


Lapangan Desa Ridogalih, Cibarusah, Bekasi yang sedang digunakan sebagai lokasi peresmian Water Truck dari ACT, Rabu (30/10). Latar belakang lapangan itu merupakan perkebunan dengan tumbuhan yang mengering akibat kemarau panjang. (ACTNews/Muhar Zulfikar).

Pada Juli lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) sempat mengunjungi Kecamatan Cibarusah untuk meliput kekeringan yang terjadi di sana. Dampaknya cukup parah, terlebih bagi para petani. Perekonomian mereka tersendat akibat tak bisa bercocok tanam. Karang taruna setempat mengatakan, selama kemarau petani tak dapat bercocok tanam, hal ini memaksa mereka untuk beralih profesi lain untuk tetap mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagian besar petani beralih menjadi kuli bangunan atau merantau keluar Bekasi untuk sementara waktu.

Camat Cibarusah Enop Can pada Rabu (30/10) mengatakan, dampak kekeringan di tahun 2019 ini cukup parah dibandingkan tahun sebelumnya. Ratusan hektare sawah kini tak dapat ditanami karena tidak ada suplai air. “Dampaknya pada perekonomian masyarakat karena banyak sekali lahan pertanian yang mengalami gagal panen akibat kekeringan ini,” sebutnya.


Air keruh dari salah satu telaga yang masih terisi air di Gunungkidul pada Juli lalu. Akibat kekeringan panjang, warga terpaksa mengonsumsi air keruh dari telaga. (ACTNews/Eko Ramdani).

Hal serupa juga terjadi di DI Yogyakarta, terlebih Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo yang sampai saat ini warganya masih kesulitan mendapatkan air. Di Gunungkidul, tak sedikit warga yang memilih menjual ternak mereka untuk membeli air. Pasalnya, per tangki ukuran 4 ribu liter harganya bisa mencapai Rp 100 ribu atau bahkan lebih tergantung jarak yang harus ditempuh dari sumber air ke rumah warga. “Kondisi perekonomian warga memang prasejahtera, ditambah dengan adanya kemarau membuat kondisi mereka semakin terdesa, jadi hewan ternak yang merupakan harta paling berharga mereka harus dijual untuk memenuhi kebutuhan air,” ungkap Sutaryono, warga Desa Grogol, Paliyan, Gunungkidul pada Agustus 2019 lalu.

Sampai saat ini, Gunungkidul dan Kulon Progo guyuran hujan masih dalam intensitas sangat rendah. Hal ini belum mampu memenuhi kebutuhan air warga. Dari data yang dipublikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika per 17 Oktober lalu memperkirakan curah hujan di Indonesia masih berada di level menengah hingga rendah. Bahkan, di sebagaian besar Jawa dan Nusa Tenggara kemungkinan hujan masih sangat rendah.[]

Bagikan