Pascabanjir, Warga Bengkulu Keluhkan Sejumlah Penyakit

Selain masih lumpuhnya aktivitas pascabanjir, penyakit juga mulai menjangkit warga Bengkulu.

ACTNews, BENGKULU – Sepekan pascabanjir yang merendam hampir seluruh wilayah Bengkulu, warga terdampak mulai mengeluhkan sejumlah penyakit. Hal ini disampaikan oleh dr. Aisyah Tanjung selaku Koordinator Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk Banjir Bengkulu, saat memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak banjir di Kelurahan Tanjung Jaya, Kota Bengkulu, Rabu (1/5). Sebagian besar warga yang berobat mengeluhkan gatal-gatal dan sakit kepala.

Menurut dr. Aisyah, warga terdampak banjir kerap kali mengalami permasalahan kulit, pencernaan, bahkan infeksi saluran pernapasan karena kebersihan lingkungan yang buruk pascabanjir. Sementara sakit kepala yang dirasakan warga, salah satunya disebabkan faktor kelelahan. Tim Medis ACT pun berupaya melakukan sejumlah tindakan. “Penanganan yang kami lakukan yaitu pengobatan gratis, juga edukasi kepada masyarakat,” kata dr. Aisyah, Rabu (1/5).

Hasima (55), warga Kelurahan Tanjung Jaya, menjadi salah satu pasien yang mengikuti pelayanan gratis Rabu itu. Kerap menerobos air banjir untuk mengevakuasi harta benda miliknya membuat kulit Hasima terinfeksi gatal-gatal. Pascabanjir, sejumlah keluhan kesehatan kerap ia rasakan.

“Ini gatal-gatal. Mata saya rasanya berputar dan mual kemarin. Tidak cukup makan juga, memang,” cerita Hasima. Ia pun bersyukur mendapatkan pengobatan dan obat secara gratis dari pelayananan kesehatan Tim Medis ACT.

Selain di Kelurahan Tanjung Jaya, Tim Medis ACT juga menangani pasien bersama Ikatan Apoteker Indonesia (IDI) di Kelurahan Sukamerindu. Di posko tersebut, Safitri memeriksakan putrinya, Dinda (8), yang mengalami demam. Kondisi Dinda yang sudah lemas saat itu menjadi kekhawatiran tersendiri. “Tadi kami mau ke puskesmas, namun tutup, lalu kami ke posko ini,” jelas Safitri. Dokter Aisyah pun memeriksa kondisi Dinda dan memberikannya obat.

Rabu siang, tim pun bertolak ke desa-desa di Kabupaten Benteng. Wilayah terdampak gempa dan longsor. Menurut dr. Aisyah, kondisi kesehatan masyarakat di sana cukup baik. “Kebanyakan masyarakat di sana mengeluhkan hipertensi dan asam urat. Warga yang berobat lebih banyak karena fasilitas kesehatan minim, sebab hanya terdapat satu bidan,” lapor dr. Aisyah.

Selama di Bengkulu, dalam fase tanggap darurat ini, Tim Medis dan Ambulans Pre-Hospital ACT akan berkeliling daerah terdampak banjir atau pun longsor lainnya. Hingga saat ini, berdasarkan asesmen relawan MRI – ACT, masih banyak masyarakat terdampak banjir yang belum mendapat pemeriksaan kesehatan.


Memberikan pelayanan terbaik

Pelayanan kesehatan ini merupakan aksi perdana Tim Medis ACT yang dibantu dengan armada Ambulans Pre-Hospital ACT, sejak kedatangannya di Bengkulu Rabu (1/5) pagi. Ambulans yang berangkat dari Jakarta Senin (30/4) juga membawa perlengkapan obat-obatan bagi korban bencana banjir Bengkulu.

Dalam perjalanan ke Bengkulu, Sella Eka Yulia, salah satu perawat dari Tim Medis ACT yang berangkat menggunakan Ambulans Pre-Hospital dari Jakarta mengatakan, tidak ada kendala berarti dalam perjalanan. “Perjalanan lancar, hanya saja kami usahakan sangat berhati-hati karena kondisi jalan yang berkelok dan sangat minim penerangan. Kami juga membawa sejumlah obat yang memang dipersiapkan untuk para korban banjir,” lapornya.

Ambulans Pre-Hospital ACT didesain untuk memudahkan masyarakat menerima pelayanan medis. Ambulans dirancang sebagai kendaraan pra-rumah sakit berpindah sehingga masyarakat yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan karena keadaan tertentu, tetap dapat memperoleh layanan kesehatan. Ambulans Pre-Hospital ACT pun telah beraksi pada penanganan bencana-bencana sebelumnya, seperti gempa Lombok, bencana alam di Palu-Sigi-Donggala, serta tsunami Selat Sunda.[]