Pascabencana, Semua Belum Berakhir

Setelah bencana berakhir, hidup Supi belum banyak berubah. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, ia mengandalkan bantuan dari orang lain dan harus menghemat makanan yang ia punya.

Pascabencana, Semua Belum Berakhir' photo
Supi bercerita di depan huniannya di kompleks Integrated Community Shelter (ICS). (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, LEBAK – Supi (47) tidak memiliki banyak barang di tempat tinggal barunya, Integrated Community Shelter (ICS) yang dibangun oleh ACT. Di sebelah kanan hunian barunya, hanya ada kompor dan beberapa bahan masakan. Di kamarnya, bilik kedua, sebuah tikar dan beberapa helai baju menghiasi ruangan yang baru dihuni itu. Bahkan kompor yang ia terima merupakan pemberian pekerja bangunan ICS.

“Ketika datang ke sini benar-benar kosong. Bahkan kompor ini saja dikasih sama abang-abang yang membangun ICS ini. Katanya untuk saya saja, tidak usah dikembalikan,” tutur Supi pada Selasa (28/4) lalu di ICS Kampung Cekdam, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Lebak.


Bangunan rumahnya rusak berat setelah diterjang banjir bandang pada awal tahun lalu. Ia tak mampu menyelamatkan satu pun perabotannya pada saat bencana itu terjadi. Ia kehilangan hampir semuanya. Tinggal hanya berdua dengan anaknya yang masih remaja, sampai sekarang Supi bahkan masih kekurangan banyak hal, termasuk makanan pokok.

Sejak bencana hingga saat ini, Supi dan anaknya hanya mengandalkan bantuan sembako yang ia dapatkan sejak bencana melanda untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Namun bekal tersebut sedikit lagi habis. Ia belum tahu pasti bagaimana harus memenuhi kebutuhan pangan ke depannya mengingat saat ini ia tak punya pekerjaan sama sekali. Terkadang demi menghemat beras, ia mengurangi jatah makannya sendiri.


Supi sedang memasak beras yang ia dapat dari Operasi Beras Gratis. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Biasanya kalau buka puasa pakai tempe sama nasi. Kalau malam saya tidak sahur. Paling makan nasi ti’is (dingin) sesuap dua suap, lalu minum. Uang tidak punya, ya mau apa?” ucap Supi.

Beban pikirannya sangat berat saat ini. Ia sempat jatuh sakit sesaat setelah banjir melanda. Badannya nyeri dan rambut di kepalanya terus rontok hingga menyebabkan kebotakan. Dokter mengatakan penyakitnya adalah penyakit batin dan reumatik sehingga ia mesti disuruh mengurangi beban pikirannya.

“Kalau sedang sadar, saya pikir ini sudah takdir, mau diapakan lagi? Tapi kalau sedang tidak sadar, sedih saya memikirkan nasib,” ucap Supi.

Di tengah kekhawatirannya itu, Supi menerima paket beras dari Operasi Beras Gratis. Kala itu, ACT mendistribusikan 600 kilogram beras kepada para penghuni ICS Lebak. Kepala Cabang ACT Banten Ais Komaruddin berharap bantuan beras tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan para penyintas banjir dan longsor selama beberapa hari ke depan.

“Mudah-mudahan ini dapat membahagiakan mereka di kala Ramadan tiba. Ke depan, kita akan coba implementasikan program pemberdayaan buat mereka. Bagi mereka, berdaya lebih baik dari menerima dan menerima,” kata Ais.

Kata-kata Ais benar adanya. Supi langsung membawa beras yang ia dapat ke rumahnya, memisahkan beberapa liter di dalam panci dan memasaknya. Sementara tungku kompor di sebelahnya tengah memanaskan air untuk merebus sayur genjer yang sedang ia bersihkan, “Terima kasih, ini bisa menambah makan saya sampai setengah bulan ke depan,” ucap Supi, senang. []


Bagikan