Pascaserangan di Al-Aqsa, Pesawat Tempur Israel Tembakan Misil ke Gaza

Tak lama setelah pasukan Israel melakukan serangan ke Al-Aqsa, para zionis mengerahkan pesawat tempur untuk menembakkan misilnya ke Gaza.

israel serang gaza
Pesawat tempur Israel yang menembakkan misil ke Gaza pada tahun 2021 lalu. (AA/Abedrahim Khatib)

ACTNews, GAZA – Beberapa pesawat tempur Israel dilaporkan menembakkan misilnya ke sebuah lokasi di barat kota Khan Younis, Gaza Selatan pada Selasa (19/4/2022) pagi. Serangan itu membuat daerah tersebut mengalami sejumlah kerusakan.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, sejauh ini pihaknya belum menemukan adanya laporan korban luka maupun korban jiwa atas serangan tersebut.

Serangan ini terjadi tak lama setelah penerobosan pasukan Israel ke Masjid Al-Aqsa pada Jumat dan Ahad (15 dan 17/4/2022) pekan lalu, yang menyebabkan sedikitnya 170 warga Palestina terluka. Penerobosan tersebut terjadi karena pasukan Israel yang berusaha mengusir warga Palestina dari Al-Aqsa, agar para pemukim Israel bisa menggelar ritual di sana.

Peristiwa ini pun hampir mirip dengan apa yang terjadi pada tahun lalu. Saat Ramadan 2021, pasukan Israel bentrok dengan warga Palestina di Yerusalem. Peristiwa tersebut menjadi pemicu dibombadirnya Gaza selama 11 hari oleh pesawat tempur Israel.

Dalam agresi tersebut, 257 warga Gaza dinyatakan meninggal dunia, termasuk di antaranya 65 anak-anak, dan 39 perempuan. Sementara sekitar 1.900 warga Palestina lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, serangan tersebut juga menyebabkan setidaknya 1.174 bangunan di Gaza rusak total dan tidak bisa digunakan kembali, serta 7.073 bangunan rusak sebagian. Di mana bangunan yang rusak mayoritasnya merupakan hunian warga sipil, dan menyebabkan banyak keluarga di sana mengungsi.

"Kami berharap agar serangan di Gaza kali ini tidak berlanjut semakin parah seperti yang terjadi pada tahun lalu. Sebab, saat ini warga Palestina di Gaza tengah merayakan Ramadan, bulan suci yang seharusnya dirayakan dengan penuh suka cita," ujar Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Network ACT. []