Pasokan Pangan untuk Pengungsi Uganda Tidak Menentu

Minim sumber daya dan jumlah pengungsi baru yang semakin bertambah membuat pasokan pangan di Uganda tidak tercukupi, sekalipun telah didukung lembaga pangan dunia.

Pasokan Pangan untuk Pengungsi Uganda Tidak Menentu' photo

ACTNews, UGANDA UTARA – Kiriman makanan dari Organisasi Pangan Dunia bulan ini terlambat datang. Sementara, persediaan pangan pun semakin berkurang. Aparo Dorin, ayah dari sembilan anak di Kamp Pengungsi Palabek, Uganda, hanya bisa pasrah. Dorin mengenang beberapa waktu lalu, ketika selama lima hari keluarganya hampir tidak punya apa-apa untuk dimakan.

Dilansir dari Reliefweb, negara bagi 1,29 juta pengungsi dan pencari suaka itu defisit pangan. Reliefweb menyebutkan, setiap bulan, Organisasi Pangan Dunia menyediakan paket pangan bulanan yang terdiri dari jagung, minyak, garam, gula, dan kacang-kacangan untuk penghuni kamp, namun porsinya tidak memadai karena kurangnya sumber daya dan jumlah pendatang baru yang terus meningkat.

“Makanan adalah masalah besar di kamp-kamp pengungsi. Hal utama yang kami perhatikan adalah membantu pengungsi menghasilkan lebih banyak makanan dan memberi mereka keterampilan yang bisa mereka bawa ketika mereka kembali ke negaranya,” kata Linda Eckerbom Cole, direktur eksekutif di organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan, sebagaimana dirilis Reliefweb pada Rabu (24/7) lalu.

Sementara itu, penduduk di wilayah Karamoja dan wilayah Uganda utara masih berjuang dari kondisi kekeringan dan hujan yang belum juga turun. Sejak pertengahan Juni hingga pertengahan Juli ini, jumlah hujan di bawah rata-rata memang terjadi di sejumlah negara di Afrika, salah satunya Uganda.

Kekeringan membuat kesediaan pangan di Uganda tidak menentu. Lembaga bantuan Amerika pada April 2018 menyebutkan, satu dari tiga anak Uganda di bawah lima tahun mengalami stunting (tubuh kerdil). Stunting meningkat berdasarkan usia, puncaknya tertingginya sebanyak 37 persen dialami bayi berusia 18-35 bulan. Stunting lebih banyak terjadi pada anak-anak di pedesaan dengan jumlah 30 persen, dibanding area perkotaan dengan jumlah 24 persen.[]

Bagikan