PBB: 9 dari 10 Pengungsi Suriah di Lebanon Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem

Pada tahun 2021 ini, PBB menyebut 9 dari 10 pengungsi Suriah di Lebanon hidup dalam kemiskinan ekstrem. Inflasi telah membuat harga pangan meroket di Lebanon, menjadikan pangan sebagai salah satu hal yang sangat sulit bisa dipenuhi para pengungsi.

pengungsi suriah di lebanon
Potret pengungsi Suriah di Lebanon yang hidup dalam kemiskinan parah. (Reuters/Mohamed Azakir)

ACTNews, LEBANON – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, pada tahun ini, kehidupan pengungsi Suriah di Lebanon sangat memprihatinkan. Setidaknya 9 dari 10 pengungsi, disebut PBB, hidup dalam kemiskinan yang ekstrem. Jumlah ini pun naik 55 persen dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Para pengungsi dilaporkan tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka, tidak mampu membayar biaya sewa tempat tinggal, kesulitan memperoleh akses kesehatan yang layak, hingga tak mampu membeli makanan sebab harganya yang terlalu tinggi.

"Selama 18 bulan terakhir, mata uang Lebanon telah kehilangan lebih dari 85 persen nilainya. Harga berbagai komoditas telah meroket, dan berada di luar jangkauan keluarga pengungsi Suriah. Krisis akan berdampak jangka panjang pada kesejahteraan pengungsi dan masa depan anak-anak mereka, serta mengancam akses para pengungsi ke berbagai layanan penting," ujar Ayaki Ito, perwakilan Badan Pengungsi PBB di Lebanon. 

Inflasi di Lebanon, berdampak pada harga pangan yang naik secara signifikan. Antara Oktober 2019 dan Juni 2021, biaya makanan meningkat hingga 404 persen. Hal ini mengakibatkan tingkat kerawanan pangan yang mengkhawatirkan di antara keluarga pengungsi Suriah.

PBB menyatakan, pada Juni 2021, hampir separuh populasi pengungsi Suriah di Lebanon, mengalami kerawanan pangan. Sekitar dua pertiga keluarga pengungsi, dilaporkan harus membatasi porsi makanan, atau mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi per hari.

"Ini adalah tahun yang berat bagi semua orang di Lebanon. Termasuk pengungsi. Kami telah melihat harga pangan tergelincir di luar jangkauan banyak keluarga," kata Abdallah Al-Wardat, perwakilan Program Pangan Dunia (WFP).

Tempat tinggal pun turut menjadi salah satu permasalahan bagi para pengungsi. Di mana lebih dari 60 persen pengungsi hidup di area pengungsian yang terbilang berbahaya, jauh di bawah standar, dan rawan terjadi penggusuran. Belum lagi area pengungsian yang penuh sesak, berpotensi memudahkan berbagai penyakit menular untuk merebak di antara para pengungsi.[]