PBB: Ketahanan Pangan di Timur Tengah dan Afrika Utara Hancur Imbas Covid-19

PBB menyatakan ketahanan pangan negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara hancur imbas Covid-19. Setidaknya 132 juta warga di sana mengalami kelaparan kronis sejak awal pandemi.

kelaparan akibat covid
Ilustrasi. Anak-anak di Suriah menyantap makanan ala kadarnya untuk bertahan hidup. (Reuters/Rame Alsayed)

ACTNews, JAKARTA – Laporan terbaru yang diterbitkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyatakan, pandemi Covid-19 telah memukul ketahanan pangan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

FAO mengatakan setidaknya 132 juta orang telah mengalami kelaparan kronis sejak awal pandemi. Jumlah pasokan pangan dilaporkan menurun drastis karena banyak sektor pertanian dan produsen pangan skala kecil tidak beroperasi selama pandemi.

“Ini adalah angka yang mengkhawatirkan untuk wilayah-wilayah tersebut. Sebab, selama beberapa tahun, tingkat ketahanan pangan di sana hampir stabil. Namun, Covid-19 merubah segalanya. Angka ini sangat serius.” ujar Ahmad Mukhtar, ekonom senior FAO untuk Timur Dekat dan Afrika Utara.

Mukhtar menambahkan, harga pangan yang turut meroket selama pandemi membuat tingkat kelaparan menjadi semakin tinggi. Hal ini pun diperparah konflik yang melanda beberapa negara-negara di Timur Tengah.

Kelaparan sudah meningkat sebelum COVID-19 di kawasan Arab akibat perubahan iklim dan konflik. Pandemi meningkatkan jumlah orang yang kekurangan gizi. Jika melihat dua dekade terakhir, wilayah kita memiliki hampir dua kali lipat jumlah orang yang kekurangan gizi, mencapai 69 juta tahun lalu, atau meningkat 91 persen.

Sementara itu, peneliti dari Pusat Internasional untuk Pertanian Biosaline di Dubai, Hayatullah Ahmadzai menyatakan penguncian (lockdown), penurunan perdagangan internasional, gangguan pada manufaktur pangan, dan penurunan ekonomi secara keseluruhan akan berdampak besar dan bertahan lama pada rantai pasokan makanan.

Beberapa negara Timur Tengah, disebut Ahmadzai, sangat rentan terhadap kerawanan pangan karena lingkungan yang keras serta sumber daya alam yang terbatas untuk produksi tanaman berkelanjutan.

“Wilayah Timur Tengah adalah salah satu yang paling rentan terhadap krisis pangan akibat COVID-19, serta alasan lain, seperti peningkatan efek perubahan iklim dan keresahan ekonomi karena ketidakstabilan politik,” katanya.[]