Pejuang Pendidikan di Maluku Terhimpit Pandemi dan Utang

Sri Arwani sudah tak lagi mengajar semenjak dua bulan lalu. Padahal kebutuhan makin mendesak, terutama di tengah pandemi. Ia bahkan mesti berutang ke kepala sekolahnya untuk memenuhi kebutuhan yang terasa kian sulit terpenuhi.

Serah terima bantuan Sahabat Guru Indonesia kepada salah satu guru. (ACTNews)

ACTNews, AMBON – Hampir dua bulan ini Sri Arwani tak lagi mengajar. Pendidikan di ruang kelas berganti menjadi lewat aplikasi Whatsapp. Masih ada gaji bulanan yang bisa ia dapatkan, walaupun upah hariannya hilang. Ia masih bisa mencari tambahan lewat mengajar les untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tetapi lambat laun virus corona semakin menghimpit kondisi ekonominya. Ketika jumlah pasien positif semakin banyak, les ditiadakan. Ia sampai sempat berutang kepada kepala sekolah di tempatnya bekerja di Raudhatul Athfal (RA) Al-Hikmah, Kota Ambon, Maluku.

“Sebelum waktu terima gaji, keluarga saya kesulitan keuangan. Saya harus menghubungi kepala sekolah untuk kasbon karena kondisi keuangan saya terhimpit. Bantuan dari Sahabat Guru Indonesia benar-benar membantu keluarga saya, dan teman-teman guru saya di masa pandemi ini,“ kata Sri pada Rabu (5/1) lalu saat menerima bantuan baiya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia yang diinisiasi Global Zakat – ACT.

Sri adalah tulang punggung bagi suami dan dua orang anaknya. Sebelumnya, suaminya bekerja sebagai buruh lepas. Namun sekarang ia tak bisa lagi bekerja karena adanya pandemi Covid-19. Praktis, kebutuhan sehari-hari pun kini harus mengandalkan gaji bulanan Sri.


Jadi saya cuma mendapatkan gaji mengajar sebesar Rp917 ribu, sementara untuk kebutuhan saat pandemi tidak dapat memenuhi. Karena saya memiliki 2 orang anak. Walau keduanya sekarang sedang tidak sekolah, saya harus membayar uang SPP mereka. Suami saya biasanya bekerja sebagai buruh pekerja lepas, kadang kerja kadang tidak. Tetapi selama pandemi ini tidak ada pekerjaan,” cerita Sri yang telah 8 tahun mengabdi demi pendidikan.

Sri merasa sangat terbantu dengan adanya program Sahabat Guru Indonesia. Karena saat ini keadaannya dan teman-teman guru lainnya sangat sulit. “Saya sudah kehabisan bahan pokok. Alhamdulillah dengan bantuan dari Sahabat Guru Indonesia ini saya dapat membelinya,” kata Sri.

Ada 20 guru, termasuk Sri, yang menerima bantuan Sahabat Guru Indonesia hari itu. Selain Yayasan Al-Hikmah, bantuan juga diberikan untuk guru-guru Yayasan Al-Madinah. Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia Riski Andriani mengatakan, aksi ini akan terus berlanjut, terutama di tengah hadirnya pandemi.

“Kita lihat banyak guru yang akhirnya harus dipotong upah hariannya bahkan diberhentikan sementara dari sekolah. Terutama para guru honorer. Oleh karena itu, kita akan terus melanjutkan program ini untuk membantu para guru melewati pandemi ini,” ucap Riski.

Hingga awal Mei kemarin, Sahabat Guru Indonesia telah menjangkau 623 sekolah di 538 desa di seluruh Indonesia. Sebanyak 1.000 guru pun telah merasakan manfaat dari program ini. “Kita mengharapkan dukungan para dermawan sekalian agar program ini terus berlanjut. Bahkan harapan kita, jangkauan Sahabat Guru Indonesia akan lebih meluas lagi dan semakin banyak guru yang merasakan manfaatnya,” harap Riski. []