Pekan Pertama Awal Tahun, 37 Bencana Alam Terjadi di Tanah Air

Pekan pertama tahun 2021, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 37 bencana alam di Tanah Air, meliputi banjir, puting beliung, tanah longsor, dan abrasi.

Bencana puting beliung merusak rumah warga di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, awal Januari lalu. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Sekitar 278 rumah terdampak puting beliung di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masuk dalam laporan tanggap darurat Aksi Cepat Tanggap di awal tahun. Bencana yang terjadi Sabtu (2/1/2021) itu bahkan membuat dua gardu listrik korslet. Tidak ada korban jiwa. Enam orang yang luka pun langsung ditangani tim medis. 

Di awal tahun, laporan banjir di Aceh Utara dan Aceh Timur menyambung daftar bencana bulan sebelumnya. Bahkan, hingga Rabu (6/1/2021), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Timur, Ashadi, menerangkan banjir masih merendam delapan kecamatan.

Per Rabu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 37 bencana alam telah terjadi di tanah air, meliputi meliputi banjir, puting beliung, tanah longsor, dan abrasi. Prospek Iklim yang dilaporkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebutkan, potensi banjir meningkat pada awal 2021. Hal itu dikarenakan jumlah curah hujan lebih tinggi dari bulan sebelumnya, yakni 200-500 mm.


Tim tanggap darurat ACT berpatroli saat bencana banjir menggenangi wilayah Jakarta pada awal tahun 2020. Tahun 2021, risiko banjir diproyeksi meningkat karena curah hujan tinggi pada awal Januari. (ACTNews)

BMKG juga melaporkan, kuartal akhir tahun 2020 hingga awal 2021, kondisi iklim global dihadapkan pada gangguan anomali fenomena La Nina dengan intensitas mencapai "moderat" di Samudra Pasifik ekuator. Menyikapi ini, Aksi Cepat Tanggap melalui Tim Tanggap Darurat menyiapkan apel kesiapsiagaan hadapi potensi bencana tahun 2020-2021.

“Apel bertujuan mengomandokan kesiapsiagaan kepada anggota tim Emergency Response di seluruh Indonesia, menghadapi potensi akhir tahun dan beberapa bulan mendatang” kata Komandan Tim Tanggap Darurat-ACT Kusmayadi usai memimpin apel pertengahan Desember lalu. Ia menjelaskan, cuaca akhir tahun hingga awal tahun yang dipenuhi dengan hari hujan intensitas tinggi yang dipengaruhi fenomena La Nina menjadi salah satu penguat apel. Usai apel, anggota tim tanggap darurat langsung berlatih penyelamatan di air menggunakan perahu karet.

Direktur Disaster Management Institute of Indonesia - ACT Wahyu Novyan menjelaskan, menghadapi fenomena La Nina, bukan hanya tim tertentu yang harus bersiap. Setiap individu pun harus bersiap menjadi penyelamat. “Di tengah pandemi ini, seharusnya setiap orang lebih mawas dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Salah satu langkah penyelamatan yang bisa kita lakukan adalah pantau informasi penting, terutama daerah-daerah langganan banjir. Amankan barang-barang penting, jaga kebersihan dan tetap ikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19,” katanya. Sementara itu, DMII melalui berbagai pelatihannya juga membentuk komunitas siaga bencana. Komunitas ini mengikuti pelatihan penyelamatan di air.[]