Pelajaran dari Pandemi Covid-19 untuk Dunia Pendidikan

Pandemi Covid-19 membuat kehidupan masyarakat banyak berubah, termasuk dunia pendidikan. Pelajaran ini berlaku bagi pendidik, siswa, maupun bagi pengambil keputusan kebijakan pendidikan.

pelajaran untuk pendidikan
Ilustrasi. Siswa dan guru di Pekalongan memakai masker saat kegiatan belajar mengajar tatap muka berlangsung. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2009-2014 Muhammad Nuh, ada empat pelajaran yang dapat dipetik dunia pendidikan Indonesia di masa pandemi Covid-19. Pelajaran ini berlaku bagi pendidik, siswa, maupun bagi pengambil keputusan kebijakan pendidikan. 

Pelajaran pertama adalah berterima kasih kepada para guru sebagai penyambung generasi. Ini berlangsung sejak dahulu. Sebagai contoh, pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, dan R.A. Kartini adalah murid Kiai Sholeh Darat Semarang. 

“Oleh karena itu, kita harus berterima kasih juga kepada tokoh atau guru di balik para tokoh. Saat pandemi guru tetap berjuang menyampaikan pelajaran, agar generasi tidak terputus,” ujarnya dalam webinar Guru Honorer dan Peran Anak Bangsa, Februari 2021 lalu. 

Pelajaran kedua menurut Muhammad Nuh adalah belajar. Menurut dia, esensi pendidikan adalah belajar, belajar, dan belajar, termasuk belajar di universitas kehidupan. Zaman terus berubah. Tanpa belajar dan belajar, ilmu dan teknologi bisa kadaluarsa. “Tugas para guru adalah mencetak pembelajar sejati, oleh karena itu, para guru juga harus menjadi pembelajar sejati,” jelasnya. 

Belajar tentang apa? Nuh melanjutkan, belajar tentang mengetahui sesuatu, belajar tentang melakukan sesuatu, belajar tentang menjadi sesuatu, belajar untuk hidup secara bersama-sama, dan belajar tentang bagaimana agar bisa belajar secara terus menerus. 

Pelajaran ketiga adalah migrasi digital. Oleh karena itu, literasi dan infrastruktur digital harus didapatkan agar kita mendapat bonus digital, seperti yang terjadi di masa pandemi Covid-19 sekarang. Migrasi digital dapat memperkuat akses dan kualitas pendidikan. Di masa pandemi semuanya berubah, dan pendidikan harus menjadi mesin perubahan. 

“Pendidikan itu seperti landasan pacu, yang mana landasan pacu itu harus lebih lebar dan panjang dibanding pesawatnya. Artinya, suatu saat mau sebesar apapun pesawat (kondisi) yang landing (yang terjadi), landasan pacu (pendidikan) selalu bisa menampung pesawat itu,” ungkapnya.  

Pelajaran keempat adalah harus menjadi ahli. Artinya ahli dalam mengelola kehidupan dan memungkinkan yang tidak mungkin. “Covid-19 sepertinya sesuatu yang tidak mungkin bisa ditangani, namun dengan ilmu pengetahuan yang dikuasai para ahli, menjadi mungkin untuk ditangani,” pungkasnya.[]