Pelayanan Kesehatan Jaga Kondisi Masyarakat Saat Kekeringan

Sekitar 150 warga yang menjadi penerima manfaat dari pelayanan kesehatan ini selain diberikan onbat-obatan untuk penyakitnya, juga diberikan edukasi untuk mencegah penyakit yang mereka alami.

Pelayanan Kesehatan Jaga Kondisi Masyarakat Saat Kekeringan' photo

ACTNews, BEKASI - Tangan kiri Eda memegang tongkat untuk membantunya berjalan, sementara tangan kanannya mengurut-urut kakinya sendiri, sambil mengatakan bahwa ia sudah lama menderita asam urat. Kembali ia juga menyebutkan sejumlah keluhan: gula darah yang tinggi, nyeri, dan panas di otot, hingga sakit lambung.

“Ini sudah semenjak Januari sakitnya. Sekarang sudah bulan Agustus, sudah lama. Kemarin kan sakit lambung, setelah lambungnya sembuh, giliran gulanya tinggi. Sampai 150 kadar gulanya,” kata Eda. Dokter dari Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) kemudian memberinya beberapa obat-obatan dan menyarankannya untuk lebih banyak istirahat dan menjaga pola hidup.

Eda ditemani suaminya datang ke pelayanan kesehatan. Mereka hanya memang tinggal berdua semenjak anak-anak mereka menikah. Kini, pasangan lansia itu dibiayai oleh anak-anaknya, sehingga tidak perlu bekerja lagi. Tetapi karena semakin tua, masalah kesehatan pun datang begitu saja walaupun kedua orang tua ini sudah tidak lagi banyak beraktivitas.

“Sudah tidak kuat lagi ke sawah, kami sudah sering lelelus (lemes). Lihat saja, ini jalannya pakai tongkat. Namanya juga aki-aki sama nini-nini,” kata Eda sambil tertawa. Ida merasa senang katanya, hari itu ia dan suaminya bisa mendapatkan pengobatan gratis yang juga tak jauh dari tempat ia tinggal.


Selain Eda dan suaminya, dr. Nisrina dari Tim Medis ACT memeriksa kesehatan fisik dari kurang lebih 150 warga lainnya. Dr. Nisrina menjelaskan, bencana kekeringan ini dapat berdampak juga pada kesehatan warga karena berpengaruh kepada kondisi psikis dan fisik masyarakat.

“Karena cuaca panas dari kemarau ini bisa membuat mereka stres. Belum lagi kalau mereka memikirkan karena kekeringan, produksi pangan dan ketersediaan air berkurang, jadi mereka bingung mau bagaimana. Lalu kalau makanan juga tidak ada karena kekeringan, ini berdampak ke fisik mereka. Seperti tadi, beberapa sudah menimbang dan katanya beratnya turun,” tuturnya.

Dari pemeriksaan fisik dan dari keluhan warga, tim menemukan bahwa penyakit yang paling banyak diidap oleh warga adalah tekanan darah tinggi. Dr. Nisrina pada akhirnya juga memberikan edukasi agar kesehatan masyarakat selalu terjaga.

“Rata-rata semuanya darah tinggi ya, tensinya kebanyakan tinggi. Kita kasih obat darah tinggi dan beri edukasi juga, ini kan kondisinya sedang kekeringan. Secara psikologis mereka bisa tertekan juga (karena bencana), itu juga bisa berdampak juga ke darah tinggi,” jelas dr. Nisrina.


Selain itu, dr. Nisrina juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyakit pernafasan saat kemarau seperti ini karena banyaknya debu. Selain itu, ia menyarankan masyarakat secara umum untuk terus menjaga pola hidup bagaimana pun kondisinya.

“Walaupun air tidak ada, tetap jangan dipaksa menggunakan air yang kotor. Karena tadi ada beberapa anak kecil juga yang kulitnya sudah mengalami gatal-gatal. Kata ibunya, ‘Oh iya dokter, ini mungkin semenjak kering, jadi agak gatal-gatal badannya.’ Pola hidup seperti ini yang sebisa mungkin terus dijaga,” ujar dr. Nisrina. []

Bagikan

Terpopuler