Peliknya Perjuangan Guru Prasejahtera Bertahan Selama Pandemi

Sektor pendidikan menjadi salah satu bagian tak lepas dari dampak pandemi. Tak sedikit murid dan guru yang mengalami kesulitan adaptasi kebiasaan baru dalam pendidikan. Hal ini terjadi, salah satunya karena faktor keterbatasan ekonomi.

Peliknya Perjuangan Guru Prasejahtera Bertahan Selama Pandemi' photo
Sri Arma Yunita, salah satu guru di Lhokseumawe saat ditemui oleh tim MRI. Ia merupakan satu dari sekian banyak guru yang selama pandemi ini ekonominya ikut terdampak. (ACTNews)

ACTNews, LHOKSEUMAWE Selama pandemi melanda hingga era kenormalan baru, berbagai lini kehidupan harus menyesuaikan. Tak hanya dalam hal menjaga kesehatan saja, tapi juga pekerjaan, bersosial, hingga dunia pendidikan. Teknologi menjadi andalan untuk melakukan kebiasaan baru. Namun di bidang pendidikan, tak semua guru dan muridnya mampu mengikuti perubahan karena berbagai keterbatasan.

Sri Arma Yunita (31) merupakan guru di salah satu sekolah menengah pertama swasta di Lhokseumawe. Ibu dua anak ini, selama pandemi, mengalami kesulitan dalam mengajar. Keterbatasan ekonomi yang membuatnya berat untuk mengeluarkan uang kuota internet guna mengajar daring. Walau begitu, rupiah yang ia kumpulkan serta bantuan dari sang suami yang bekerja menjadi buruh kasar dan pengemudi becak menjadi sumber dananya membeli kuota demi menunaikan tanggung jawab sebagai guru.

“Selama pandemi, saya coba berjualan baju secara online untuk sambilan dan tambahan uang keluarga,” ungkap perempuan yang bersama keluarganya tinggal di Gampong Batuphat Barat, Kecamatan Muara Satu itu, Rabu (14/10).

Tak jauh berbeda keadaannya dengan Sri, Marsyiah (40), guru di SDN 3 Lhokseumawe, juga harus merasakan kesulitan ekonomi selama pandemi yang berpengaruh pada aktivitasnya sebagai pengajar. Menumpang jaringan internet milik tetangganya pun menjadi pilihannya karena tak sanggup membeli kuota internet sendiri. Di samping itu, perempuan warga Gampong Maunasah Manyang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe tersebut saat ini harus menjadi orang tua tunggal bagi tiga anaknya setelah sang suami meninggal dunia tujuh tahun silam. Untuk tempat tinggal pun, Marsyiah masih menumpang di rumah ibunya bersama anggota keluarga lainnya.

“Harapannya, semoga corona cepat selesai. Saya kangen suasana sekolah,” kata Marsyiah.

Sri dan Marsyiah merupakan sedikit dari banyaknya guru prasejahtera yang rela mengabdikan dirinya untuk pendidikan Indonesia. Saat ini, di tengah pandemi Covid-19 yang melanda, ekonomi mereka pun tak lekang dari dampak. Terlebih, sebelum pandemi melanda, ekonomi mereka memang sudah sulit. Kini berbagai penyesuaian hadir dan memerlukan dukungan ekonomi, salah satunya pemanfaatan teknologi terkini untuk pendidikan.

Bantuan biaya hidup

Sudah hampir satu tahun ini, Global Zakat-ACT menjalankan program Sahabat Guru Indonesia. Hadirnya program ini untuk memberikan bantuan biaya hidup, baik berupa uang tunai maupun paket pangan ke guru-guru prasejahtera serta honorer. Dana yang digunakan merupakan dana zakat yang muzaki salurkan melalui Global Zakat-ACT.

Sri dan Marsyiah merupakan beberapa guru yang mendapatkan biaya hidup ini. Pada Rabu (14/10) kemarin, penyerahan bantuan ini dibantu oleh Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Lhokseumawe. Sambutan baik pun datang dari Sri dan Marsyiah. Mereka mengaku dana yang mereka dapatkan akan dimanfaatkan untuk membeli kuota guna menyokong aktivitas pendidikan.

Riski Andriani selaku Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia mengatakan, program untuk guru ini merupakan bentuk nyata kebaikan yang sumbernya dari dana zakat masyarakat. Hingga kini pun, Global Zakat-ACT terus membuka kesempatan bagi muzaki untuk membayarkan zakat malnya. “Bagi muzaki yang bingung untuk menentukan zakat mal, laman resmi Global Zakat telah menyediakan aplikasi perhitungan, atau muzaki bisa langsung menghubungi cabang terdekat. Selain itu, penyaluran zakat juga bisa dilakukan melalui laman Indonesia Dermawan,” jelas Riski.[]

Bagikan

Terpopuler