Pembatasan Akses Jadi Sumber Derita Warga Gaza

Penjajahan sangat mempersulit masyarakat di Gaza. Warga yang tinggal, tidak diperbolehkan membawa masuk barang apapun, termasuk perlengkapan medis. Adanya serangan Israel pada Selasa (12/11) memperburuk kondisi mereka akibat kekurangan alat medis dan obat-obatan.

Salah satu bangunan yang hancur di Gaza pascaserangan Kamis (14/11) kemarin. (ACTNews)

ACTNews, GAZA - Palestina kembali krisis. Serangan yang diluncurkan Israel pada Selasa (12/11) lalu ke Gaza menewaskan puluhan orang dan menyebabkan ratusan lainnya luka-luka.

“Serangan dimulai pada 12 November dengan lebih dari 70 kali serangan dan pemboman yang menyasar warga Palestina di Gaza. Ada 34 orang syahid hingga kini. 120 orang terluka, beberapa mengalami luka parah. Di antara 34 orang yang syahid, ada 8 orang anak-anak dan 3 orang wanita,” ujar Khodor Aldaraj, peneliti konflik di Gaza, kepada Tim ACTNews, Kamis (14/11).

Padahal tanpa adanya bombardir saja, kondisi mereka sehari-hari sudah cukup sulit. Jika ada warga Gaza yang menderita sakit parah, seperti kanker misalnya, maka tidak akan diperbolehkan untuk dirawat di luar Gaza. Khodor mengatakan Gaza sekarang ini sebuah penjara raksasa, sehingga akses masuk dan keluar benar-benar dibatasi.

“Sungguh, jika seseorang menderita sakit parah di Gaza, seolah dia sudah mendapatkan vonis mati. Mungkin dia masih dapat selamat seandainya mendapatkan pengobatan, tetapi mereka (para penjajah) memvonis mati orang tersebut dengan menghalangi masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis untuk masuk Gaza,” imbuh Khodor.


Anggota keluarga menenangkan dua orang anak yang mendadak menjadi yatim piatu setelah serangan Israel pada Selasa (12/11) lalu. (REUTERS/Mohammed Salem)

Wilayah yang paling sering dibombardir oleh Israel adalah perkotaan. Israel mengklaim mereka menyasar militer-militer dari Palestina. Namun menurut Khodor, korban terbanyak justru warga sipil yang tidak bersalah. Seperti pada Rabu (13/11) malam kemarin, dilansir dari BBC Indonesia, ketika serangan udara terhadap rumah di Deir al-Balah, Gaza menewaskan keluarga beranggotakan delapan orang.

Masih dari sumber yang sama, kontrol atas akses ke Gaza diperketat oleh Israel pada 2007. Kabinet Israel menetapkan Gaza sebagai 'kawasan yang bergolak' dan menerapkan sanksi ekonomi, termasuk blokade atau pembatasan pergerakan manusia dan barang. Israel mengatakan ini perlu dilakukan untuk mengatasi tembakan roket dari Gaza ke Israel.

Baru pada tahun 2010, pemerintah Israel melonggarkan pembatasan yang mulai diterapkan pada 2007 setelah masyarakat internasional menyimpulkan krisis kemanusian di Gaza memburuk.

“Jadi, kita harus membantu dan mendukung mereka agar mereka dapat merasa tenang, atau paling tidak merasa memiliki sesuatu yang dapat mendukung mereka. Situasi di Gaza sangat buruk saat ini. Orang-orang memenuhi jalanan di Gaza, tanpa rumah atau tempat bernaung. Pemboman masih terjadi, banyak orang tewas, serta banyak yang kehilangan rumah,” kata Khodor. []