Pemberangkatan ke Makassar, Pesawat Kemanusiaan Prioritaskan Pengungsi Usia Rentan

Pascakonflik sosial di Wamena, arus pengungsi terus terjadi menuju berbagai kota di Indonesia. Senin (7/10) ini, ACT memberangkatkan pengungsi usia rentan menuju Sulawesi Selatan.

Pemberangkatan ke Makassar, Pesawat Kemanusiaan Prioritaskan Pengungsi Usia Rentan' photo
Nurena (kiri) dan Pikram (kanan) sedang menunggu kedatangan pesawat yang akan membawanya menuju Makassar, Senin (7/10). Mereka merupakan pengungsi usia rentan yang dipulangkan ACT. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAYAPURA – Pikram (2 bulan) semringah di gendongan ibunya ketika berada di Bandar Udara Silas Papare, Sentani, Jayapura, Senin (7/10). Hari masih menunjukkan pukul 09.00 WIT, Pikram bersama kakak dan kedua orang tuanya hendak terbang menuju Makassar menggunakan Pesawat Kemanusiaan ACT, yang berkolaborasi dengan maskapai Garuda Indonesia. Ia merupakan salah satu dari puluhan ribu warga Wamena yang mengungsi ke Sentani akibat konflik sosial yang terjadi dua pekan lalu.

Nurena (34), ibu Pikram, menuturkan ketika pergi menggunakan pesawat Hercules milik TNI, kedua anaknya yang masih balita ini harus berdesak-desakan bersama ratusan pengungsi lainnya tujuan Sentani. Walau tak sampai mengalami luka-luka, sesampai di pengungsian kedua anaknya mengalami demam. “Setelah perjalanan itu anak saya sakit, tapi sekarang sudah jauh lebih baik,” ungkap Nurena.


Pengungungsi Palopo hendak memasuki pintu keberangkatan bandara Sentani, Senin (7/10). Mereka hendak bertolak ke Makassar, Sulsel. (ACTNews/Eko Ramdani)

Di Sentani, tambah Nurena, keluarganya datang tanpa membawa harta benda. Ketika konflik terjadi, ia dan keluarganya sedang berada di Yalimo untuk bekerja. Namun, warga sekitarnya memberi kabar kalau telah terjadi konflik di Wamena, yang menyebabkan rumah indekos sewanya terbakar.

Yahya (44), suami Nurena, berkata, selama empat hari setelah tiba di Sentani, ia dan keluarganya tak mengganti pakaian karena tak memiliki pakaian ganti. Baru setelah bantuan datang, ia bisa mengganti dengan pakaian baru. “Kami ini mengungsi tanpa membawa apa-apa,” ungkap Yahya yang bekerja di Wamena sebagai pekerja bangunan.

Hal yang sama diungkapkan Anggita (25). Ibu dengan anak usia satu bulan ini ikut kelompok terbang tujuan Makassar dari ACT pada Senin (7/10). Imaliyali, anaknya yang baru berusia satu bulan, berhasil menyelamatkan diri dari Wamena menggunakan pesawat Hercules bersama ratusan orang lainnya.

“Di dalam pesawat (Hercules) itu penuh sesak, untuk napas saja berat. Tapi alhamdulillah anak saya bisa selamat sampai Sentani dan mengungsi di sini,” ungkapnya.

Pada Senin (7/10), ACT kembali memulangkan warga Wamena asal Sulawesi Selatan. Mereka telah bertahan setidaknya sejak sepekan terakhir di pengungsian yang tersebar di berbagai titik di Sentani. Sebanyak 31 jiwa diberangkatkan ke kampung halaman mereka.


Wahyu Novyan selaku Komandan Posko Nasional ACT untuk Penanganan Konflik Wamena mengatakan, proses pemulangan pengungsi Wamena tujuan berbagai daerah diprioritaskan ibu hamil, ibu dengan bayi dan balita, serta orang tua. Pemulangan pengungsi telah dilakukan sejak Kamis (3/10) lalu dan akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

“Pengungsi ini merupakan mereka yang tersebar di berbagai posko pengungsian di Sentani. Kami mendahulukan ibu hamil dan ibu dengan bayi karena mereka merupakan golongan yang sangat rentan,” jelas Wahyu.

Selain pemulangan dengan pesawat, ACT juga pada Rabu (9/10) mendatang akan melayarkan Kapal Kemanusiaan untuk memulangkan pengungsi Wamena tujuan Makassar dan Surabaya. Ditargetkan seribu orang akan berlayar untuk bertemu dengan keluarganya di kampung halaman masing-masing. []

Bagikan