Pemberdayaan Ekonomi untuk Pengungsi Gunung Agung

Pemberdayaan Ekonomi untuk Pengungsi Gunung Agung

ACTNews, KARANG ASEM – 120 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 400 jiwa warga Desa Kesimpar, Kecamatan Rendang, Karang Asem – Bali yang menjadi korban erupsi Gunung Agung, hingga kini masih bertahan di pengungsian UPT Pertanian.

Desa ini merupakan salah satu yang terdampak erupsi Gunung Agung terparah dan masih masuk wilayah zona merah.

Kondisi Gunung Agung memang belum juga stabil. Pada 11 Februari lalu sempat mengalami penurunan status dari waspada menjadi siaga, namun pada 13 Februari erupsi kembali terjadi. Pengungsi yang sempat kembali kerumahnya masing-masing pun terpaksa harus mengungsi lagi.

Kondisi tersebut sempat menyebabkan terganggunya upaya recovery ekonomi yang tengah digelar Tim ACT- MRI Bali. Kegiatan  Pemberdayaan Ekonomi melalui pelatihan pembuatan kerajinan ‘ingke’ (piring tradisonal khas Bali yang terbuat dari daun lontar) sempat tertunda.

Namun hal itu tak menyurutkan  upaya tim.  Menurut Aghny Fitriany, Tim Koordinator Recovery-ACT, program pemberdayaan ini dirancang untuk membangkitkan kemandirian pengungsi, mengingat  situasi emergency yang berlangsung lama dan mulai berkurangnya dukungan logistik bagi para pengungsi.

Kondisi ini hampir sama dengan pengungsi Sinabung, dimana masa erupsi sangat lama menyebabkan perekonomian memburuk dan bahkan psikologisnya ikut terganggu.

Aghny berharap Program ini bisa menjadi salah satu solusi masalah ekonomi bagi pengungsi yang kehilangan mata pencahariannya akibat mengungsi.

“ Walaupun awalnya program ini sedikit terhambat karena kondisi Gunung Agung yang tak menentu, tapi alhamdulillah program ini tetap berjalan, dan memberikan harapan baru bagi para pengungsi yang sebagian besar merupakan petani,” tuturnya.

Tidak hanya menggelar pelatihan semata, Tim Recovery ACT juga membantu permodalan serta pemasaran hasil kerajinannya.

Nyoman Arif (39) Ketua MRI Bali mengungkapkan, saat ini para peserta pelatihan sudah berhasil memproduksi ingke yang pemasarannya dibantu oleh MRI Bali

"Alhamdulillah, pesanan untuk ingke terus masuk, hal ini merupakan respon yang positif, dengan semangat membantu para pengungsi, mereka tidak hanya membeli produk tetapi juga telah membantu perekonomian para pengungsi. Nilai tambah dari "empowerment refuges" tersebutlah yang banyak menarik minat para pembeli," jelasnya.

Menurut Aghni, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah meluaskan pasar dan kemampuan para pengrajin ingke yang mayoritas dilakukan oleh  ibu-ibu di pengungsian. "Tentu harapannya produksi meningkat dan dapat mengangkat perekonomian pengungsi," tandasnya.

Sedangkan kaum lelaki di pengungsian yang mayoritas berprofesi sebagai petani juga telah beralih profesi menjadi buruh kasar.      

“ Dengan produksi ingke yang dilakukan ibu-ibu dan pemudinya ini, alhamdulillah mereka bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.

Seperti diketahui hampir dua bulan lamanya pengungsi disuplai makanan siap santap melalui Dapur Umum ACT. Mereka juga mendapatkan bantuan paket sembako, layanan  kesehatan gratis dan trauma healing untuk anak-anak.

“ Tim relawan sendiri mencapai 100 personel yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, pegawai dan lain-lain. Mereka selama ini berjibaku membantu para pengungsi korban erupsi Gunung Agung," tandasnya.

Saat ini sekitar 6000 orang masih mengungsi di 30 lokasi. "Mudah-mudahan keadaan Gunung Agung segera normal dan pengungsi bisa kembali ke desa,” harapnya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali