Pemberdayaan Petani, Salah Satu Jurus Cegah Krisis Pangan

Organisasi Pangan dan Pertanian Persatuan Bangsa-Bangsa (FAO), memberikan indikasi kuat bahwa pandemi Covid-19 dan dampaknya memicu kelaparan di berbagai belahan dunia. Ancaman inilah yang sedang berusaha dicegah juga oleh Indonesia. Salah satunya melalui pemberdayaan para petani melalui bantuan modal bagi para petani selaku produsen pangan.

Pekerja di huler milik Ketua Kelompok Tani Sri Asih Dede Syamsudin yang berada di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang tengah mengepak beras. Melalui Program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia Aksi Cepat Tanggap berkolaborasi dengan Kelompok Tani Sri Asih dalam pemberdayaan petani dan menciptakan kemandirian pangan (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Penilaian awal dan berkelanjutan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Persatuan Bangsa-Bangsa (FAO), memberikan indikasi kuat bahwa pandemi Covid-19 dan dampaknya memicu kelaparan di negara-negara yang sudah mengalami tingkat kerawanan pangan yang tinggi. Negara-negara ini sudah rentan bahkan sebelum wabah penyakit itu merebak.

"Pandemi Covid-19 jelas dan menghadirkan bahaya bagi ketahanan pangan dan gizi, terutama bagi komunitas paling rentan di dunia," kata Direktur Jenderal FAO QU Dongyu dalam laporan yang ditulis oleh laman resmi FAO. Sebelum pandemi, 135 juta orang di seluruh dunia sudah menghadapi kelaparan akut yang disebabkan oleh konflik, guncangan iklim, dan kemerosotan ekonomi. Sementara 183 juta lainnya kini berisiko mengalami kelaparan ekstrem.

Pemerintah Indonesia merespons serius peringatan ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti peringatan kelangkaan bahan pangan seperti diungkapkan FAO. Karenanya, ia mengingatkan jajarannya untuk menjaga ketersediaan bahan pangan. "Peringatan dari FAO agar betul-betul diperhatikan, harus digarisbawahi mengenai peringatan bahwa virus corona bisa berdampak pada krisis pangan dunia," ungkap Jokowi dalam konferensi video pada April lalu.

Berbagai jurus pun ditempuh untuk mengantisipasi krisis pangan akibat pandemi di Indonesia. Termasuk dengan adanya pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada para petani. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada awal bulan Juni lalu memastikan bahwa insentif berupa bantuan sosial kepada 2,7 juta petani sudah mulai tersalurkan.


Langkah ini pula yang ditempuh oleh Global Wakaf – ACT. Melalui program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI) yang diluncurkan pada April lalu, Global Wakaf – ACT berkomitmen memperkuat sektor pangan dengan melibatkan langsung para petani di dalamnya. Dalam program ini, para petani akan diberi bantuan modal untuk memenuhi pengadaan sarana produksi (saprodi), seperti pupuk, benih, dan obat-obatan. Tidak hanya itu, beras-beras yang dipanen oleh para petani binaan ACT juga akan dibeli dengan harga terbaik.

Masyarakat Produsen Pangan Indonesia mulai menunjukkan hasil positifnya beberapa bulan belakangan. Para petani binaan di berbagai daerah menuai hasil panennya. Misalnya saja para petani di Desa Siser, Kecamatan Laren, Lamongan yang menikmati panen raya pada September lalu. Setelah beberapa bulan melewati masa tanam, lahan seluas 20 haktare yang dikelola puluhan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Bangkit binaan Global Wakaf - ACT bisa memanen hingga 140 ton gabah basah. Ini merupakan panen pertama mereka dengan modal tanpa meminjam ke rentenir atau tengkulak.

Panen raya di Desa Siser dihadiri Plt. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Kabupaten Lamongan Rujito. Dalam sambutannya, Rujito merasa bersyukur bahwa petani di Desa Siser bisa menuai panen di tengah pandemi yang membuat perekonomian terpuruk. Padi yang dipanen pada September ini ialah varietas jenis 32 dan 42 yang merupakan padi unggulan. “Ini merupakan kenikmatan karena hasil panen cukup melimpah. Panen ini juga yang mendukung Lamongan menjadi 5 besar sebagai kota penghasil beras terbanyak secara nasional,” ungkapnya, Rabu (16/9).


Salah satu acara yang digelar dalam menyambut panen raya oleh petani binaan Global Wakaf di Lamongan. (ACTNews)

Kini, permodalan petani di Desa Siser pun ditambah dengan hadirnya program Wakaf Modal Usaha Mikro. Dana wakaf yang dipakai untuk modal ini akan dijaga nilai pokoknya. Pendampingan pun bakal terus berlangsung. Koordinator Program Wakaf Modal Usaha Mikro Wahyu Nur Alim mengatakan, dana yang tersalurkan untuk modal usaha ini berasal dari wakaf yang dihimpun Global Wakaf-ACT. Dana akan disalurkan untuk berbagai kegiatan produktif, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha yang masih prasejahtera.

“Semua pihak bisa terlibat untuk membantu usaha mikro, pangan dan mereka yang terjerat utang dengan cara berwakaf. Global Wakaf-ACT telah menyediakan laman Indonesia Dermawan untuk memudahkan wakif untuk menyalurkan wakafnya,” ajak Wahyu.

Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar pun turut mengajak para dermawan untuk turut andil dalam penyediaan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan termasuk juga pemberdayaan petani dan buruh tani. “Tatkala pandemi ini membuat semua orang serba kesusahan, petani juga bertanya-tanya, siapakah pembeli beras mereka. Hari ini semua orang membutuhkan makanan dan beras, sayangnya kondisi ekonomi sebagian masyarakat tidak memungkinkan untuk membeli makanan. Kita ingin semangati semua pihak dengan baik. Petani sebagai pahlawan pangan Indonesia, jangan pernah lelah untuk menanam karena kita ingin mandiri secara pangan. Para dermawan, saatnya kita jadi bagian dari penyelamat bangsa lewat Masyarakat Produsen Pangan Indonesia,” tutup Ibnu Khajar.[]