Pemenuhan Pangan, Satu dari Sejumlah Problematika Rohingya

Bahkan, pada bulan Ramadan, kesejahteraan yang seharusnya dapat dirasakan oleh semua umat muslim, tidak mampu pengungsi Rohingya rasakan. “Saat waktu berbuka puasa sudah tiba, mereka harus tetap menahan lapar karena tidak ada makanan untuk berbuka,” tambah Firdaus.

Ilustrasi. Pengungsi Rohingya yang berjalan melewati huniannya yang ambruk. (ACTNews)
Pengungsi Rohingya di Kutupalong, Cox’s Bazar. (ACTNews)

ACTNews, COX’S BAZAR – Ratusan ribu pengungsi Rohingya di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, tidak punya cadangan makanan untuk berbuka atau pun sahur selama Ramadan. Menurut Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap, kerawanan pangan di kalangan  pengungsi Rohingya di Cox's Bazar sudah dalam tahap darurat.

"Pihak Bangladesh tidak bisa berbuat banyak, karena mereka juga bukan negara yang sejahtera. Kebanyakan pengungsi Rohingya hanya dapat mengandalkan bantuan dari negara di luar Bangladesh untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka," ujar Firdaus dalam Rohingya Humanity Virtual Tour, Kamis (29/5/2021) lalu.

Firdaus menjelaskan, para pengungsi bukannya tidak mau berusaha untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Namun, memang tidak ada lapangan pekerjaan di Cox's Bazar. Bahkan untuk pekerjaan serabutan pun tidak ada.

Bahkan, pada bulan Ramadan, kesejahteraan yang seharusnya dapat dirasakan oleh semua umat muslim, tidak mampu pengungsi Rohingya rasakan. “Saat waktu berbuka puasa sudah tiba, mereka harus tetap menahan lapar karena tidak ada makanan untuk berbuka,” tambah Firdaus.

Pemenuhan kebutuhan pangan, disebut Firdaus, hanya satu dari sejumlah problematika yang masih membelenggu pengungsi Rohingya. Mereka juga masih memiliki masalah lain, yakni tempat tinggal.

Para pengungsi di Kamp Kutupalong hanya tinggal di hunian yang sangat sederhana. Sebagian dari mereka, tinggal di hunian yang terbuat dari bambu, sementara sisanya hanya tidur di tenda terpal yang ala kadarnya.

"Kalau hujan, karena di dekat kamp terdapat sebuah sungai, maka sering kali terjadi banjir. Banyak hunian yang terbawa arus banjir saat itu. Sementara saat musim panas, di Cox’s Bazar sangat gersang, rawan sekali terjadi kebakaran Bisa dipastikan jika ada satu hunian yang terbakar, maka sudah pasti akan menyebar ke hunian lainnya. Ini sudah terjadi beberapa kali," ujar Firdaus.

Maka dari itu, Firdaus pun mengajak Sahabat Dermawan terus membersamai para pengungsi. Melalui kebaikan para dermawan, Firdaus berharap pengungsi Rohingya dapat memiliki hunian yang lebih layak dan makanan yang cukup untuk keseharian mereka.

"Segala bantuan akan sangat membantu mereka. Terutama di Ramadan ini, sangat penting bagi kita untuk membawa kebahagiaan untuk para saudara muslim kita di sana," tuturnya.[]