Pencapaian Hidup Bukan Kompetisi

Membandingkan kehidupan dengan orang lain seakan sesuatu yang wajar. Perilaku seperti ini ternyata masuk dalam kriteria tidak mental health friendly yang memiliki dampak besar dalam kehidupan, bahkan memicu gangguan kesehatan jiwa.

mental health
Ilustrasi. Seseorang saat terkena depresi. (Pexels)

ACTNews, JAKARTA Pernahkah kita membandingkan diri dengan orang lain? atau seolah beranggapan hidup orang lain lebih bahagia dibanding kehidupan kita sendiri? Bahkan, terkadang mewajarkan sebuah pepatah "rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput sendiri?".

Dari seluruh pertanyaan di atas, tentu hal ini tidak terlepas dari sifat manusia yang suka membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain. Padahal, pemikiran ini sangat berdampak secara psikologis dan memicu gangguan kesehatan jiwa.

ACTNews mewawancarai salah satu anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Dokter Era Catur Prasetya. Menurutnya, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk membandingkan pencapaian diri terhadap orang lain.

"Misalnya kita sering membandingkan kehidupan dengan orang lain. Teman-teman kok sudah punya anak, ‘kenapa aku kenapa masih sendiri’, kemudian menanyakan 'kok orang lain sudah bisa membahagiakan orang tua' kenapa aku belum bisa," ungkap dokter yang juga Relawan Humanity Medical Services Aksi Cepat Tanggap ini, Kamis (16/9/2021).

Dokter Catur menambahkan, membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain tidak terlepas dari aspek pola asuh dan pendidikan yang diterima tiap orang sejak kecil. Menurutnya aspek ini berhubungan dengan "hulu" kehidupan tiap manusia.

"Sejak kecil kita selalu dipaksa untuk berkompetisi. Misalnya kalau di sekolah itu terlalu fokus dengan academic first demi mengejar peringkat kelas. Atau di kantor kita selalu ditekan sama atasan dan lembur berjam-jam malah menganggapnya itu suatu yang wajar. Semua itu tidak mental health friendly," tuturnya.

Permasalahan ini, Menurut Dokter Catur, dapat diatasi pada tahap perkembangan anak dengan menciptakan keluarga dan kurikulum pendidikan yang ramah terhadap kesehatan jiwa dengan menerapkan pola asuh yang bukan mengukur dari ukuran kompetisi belaka.

"Kita selalu dituntut untuk menjadi nomor satu. Padahal yang lebih penting adalah memberikan pendidikan karakter sejak awal. Jadi jangan sampai kita membandingkan pencapaian diri itu dari lingkup rumah, pekerjaan, hingga lingkungan sosial. Semua orang harus sadar kalau ini berdampak pada kesehatan jiwa," tambahnya.[]