Pencuri Incar Rumah-Rumah Penyintas Banjir di Kupang

Akibat rumah rusak dan terbuka, penyintas banjir di Kelurahan Takari, Kupang, harus menghadapi ancaman pencurian. Bantuan dan barang elektronik menjadi incaran para pencuri setiap malam.

Kondisi rumah Anto, salah satu penyintas bencana di Kupang, saat malam hari. (ACTNews/Ubaidillah)

ACTNews, KUPANG — Lebih dari sepekan bencana banjir bandang di Kabupaten Kupang berlalu. Namun, ancaman musibah lain masih menghantui para penyintas. Rumah yang rusak dan terbuka menjadi incaran empuk pencuri. Listrik yang masih padam membuat pencuri mudah melancarkan aksi di malam hari. 

Penyintas banjir di RT 08, RW 04, Kelurahan Takari, Anto menceritakan bantuan-bantuan yang ia dapat habis diambil maling. Bantuan yang berhasil dicuri berupa bahan pangan dan pakaian. Rumah Anto rusak parah, banyak barang ia letakkan di luar, sehingga mudah diambil maling saat pemilik tertidur. 

"Barang-barang hasil bantuan banyak, saya masukkan ke karung, diletakkan di luar. Karena kalau di dalam rumah enggak muat. Rumah tinggal setengah, cukup untuk tidur keluarga saja," kata Anto, Rabu (14/4/2021), diwawancarai ACTNews

Dua hari setelah banjir surut, Anto juga kehilangan barang-barang dagangan yang berhasil ia selamatkan dari air bah. Saat itu, motif pelaku adalah berpura-pura menawarkan bantuan untuk membereskan barang-barang yang berantakan sehingga penyintas tidak curiga sedikit pun. 

"Orang pura-pura. Bilang sini ‘Pak, saya bantu angkat’. Padahal barang-barang yang sudah dimasukan karung itu dibawa kabur. Itu barang dagangan kayak sembako, perabotan dapur, dan plastik-plastik," ujarnya. 

Ketua RT 08, RW 04, Kelurahan Takari, Matteos Bunda mengatakan, dirinya setiap malam harus terjaga. Sebagai Ketua RT, banyak bantuan datang untuk warganya. Sedangkan rumah miliknya rusak berat dan hanya menyisakan satu kamar. 

"Setiap malam ada sinar hp di belakang rumah, orang incar rumah saya. Banyak bantuan di sini, semuanya saya letakkan di luar, ditutup terpal. Saya ronda, tunggu rumah, setiap malam batu tidur pukul 03.00 WITA," ujarnya. 

Matteos melanjutkan, akibat banjir bandang yang terjadi di wilayahnya, sebanyak 18 rumah hanyut dan delapan rusak berat. Sementara 66 KK terdampak dan dua orang meninggal dunia. Hingga saat ini, banyak bantuan berupa bahan pangan untuk penyintas, namun rumah yang rusak dan terbuka, menjadi sasaran empuk pencuri.[]