Pendapatan Tak Kunjung Normal di Era Kenormalan Baru

Era kenormalan baru telah dimulai, berbagai sektor kembali berjalan perlahan. Akan tetapi, tak sedikit usaha ultra mikro dan mikro yang masih kesulitan bangkit. Para pelaku usahanya pun merasakan ekonomi yang kian menurun.

Lulhadi mendorong gerobak rujak buah dagangannya di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Sudah 18 tahun ia berjualan, dan tahun 2020 dianggap paling berat akibat pandemi yang mempengaruhi pendapatannya. (ACTNews/Yuda Hadisana)

ACTNews, JAKARTA – Siang memuncak, matahari kian terik, namun Lulhadi terus melanjutkan langkahnya sambil mendorong gerobak yang berisikan rujak buah yang ia jajakan pada Senin (14/7). Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan menjadi jalurnya siang itu. Lelah seakan tak dikenalnya, yang terpenting ialah ia bisa mengantongi uang sebanyak-banyaknya untuk menyambung kehidupan di ibu kota.

Hari itu, ia mengaku baru mendapat uang Rp40 ribu. Padahal sudah setengah hari ia menjajakan dagangannya ke permukiman serta jalan-jalan yang ramai dilewati. Namun, pendapatan hari Senin siang itu lebih baik dibandingkan hari sebelumnya, Ahad (13/7), yang Lulhadi sebut hanya dapat setengahnya, Rp20 ribu.

“Sebenarnya makin hari, pendapatan saya semakin sedikit. Mungkin karena sekarang banyak yang lebih memilih membeli lewat aplikasi online ya, jadinya penjual kayak saya sepi pembelinya. Apalagi corona gini orang takut buat keluar sama interaksi langsung,” ungkap Lulhadi kepada tim ACTNews, Senin (13/7).

Bapak tiga anak ini telah menjadi penjual rujak buah 18 tahun lamanya. Di Jakarta, ia tinggal sendiri, anak-anak dan istrinya ia tinggal di kampung halaman, Tegal. Rumah kontrakan jadi tempatnya menyambung hidup di Jakarta. Uang sewanya Rp550 ribu per bulan. Namun, tiga bulan terakhir ia harus menunggak pembayaran karena jualannya sepi pembeli. Lulhadi juga mengaku baru mengumpulkan uang untuk bisa melunasi dua bulan saja.


Wanih, pengusaha warung makan sederhana sedang menunjukkan menu makanan siap santap yang akan dibagikan ke masyarakat. Ratusan porsi makanan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan ACT melalui program Operasi Makan Gratis. (ACTNews/Eko Ramdani)

Selama pandemi Covid-19 di Indonesia yang dimulai sejak Maret lalu, pendapatan dari jualan rujak buah Lulhadi kian hari kian menurun. Ketika awal pandemi, Lulhadi menuturkan, pendapatannya masih normal. Akan tetapi semakin hari terus berkurang, hingga di masa kenormalan baru seperti sekarang ini, pendapatannya tak kunjung normal kembali. “Walau sekarang jalanan sudah ramai lagi, tapi pembeli masih sepi, mungkin karena takut (Covid-19) kali ya,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan Wanih, pengusaha rumah makan sederhana yang ada di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Sejak pandemi melanda, pendapatannya perlahan berkurang. Puncaknya ketika Ramadan tiba. Bulan yang seharusnya bisa Wanih manfaatkan meningkatkan penghasilan, tapi ia malah tak mendapatkan keuntungan.

“Waktu itu pernah saya satu hari cuma dapat 60 ribu (rupiah), setelah itu, karena dipikir lagi, bakal bisa rugi, jadinya tutup total. Buka warung lagi ya baru-baru ini, tapi untungnya tetap enggak seperti sebelum corona,” jelas Wanih, Senin (13/7) saat membagikan 100 porsi makanan siap santap dari warungnya untuk warga prasejahtera melalui program Operasi Makan Gratis.

Lulhadi dan Wanih merupakan sedikit dari banyaknya usaha ultra mikro dan mikro yang mengalami penurunan pendapatan. Bahkan, tak sedikit juga perusahaan besar yang sudah mapan mengalami penurunan omzet yang imbasnya dirasakan pegawai. Pemerintah pun memprediksi jumlah penduduk miskin di Indonesia akan naik hingga 10 persen akibat dari Covid-19 yang berpengaruh pada sektor perekonomian.

ACT sendiri sejak pandemi Covid-19 telah mendampingi masyarakat Indonesia serta negara yang sedang dirundung krisis sumber daya dan konflik kemanusiaan hingga hari ini. Berbagai program diluncurkan menggunakan dana sedekah dari masyarakat.

"Adanya program-program tersebut tak lepas dari kepedulian sesama yang disalurkan melalui ACT. Dan mengingat pandemi Covid-19 belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, dibutuhkan kolaborasi besar untuk meredam dampak sosial ekonomi yang dirasakan masyarakat prasejahtera," jelas Sutaryo dari Tim Program ACT. []