Pengabdian Abdul Somad, Setengah Usianya Menjadi Marbut Masjid

Abdul Somad sudah 31 tahun menjadi marbut masjid. Tak pernah berharap dibayar, ia dan keluarganya harus memutar otak menggunakan uang dengan hemat saat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pun bersyukur saat bantuan hidangan sahur datang dari Humanity Food Truck, karena dapat bersantap sahur dengan hidangan yang lezat.

Abdul Somad
Abdul Somad yang kegerahan usai mengepel lantai masjid. (ACTNews/Rizki Febianto)

ACTNews, TANGERANG SELATAN — Tepat pukul 03.00 dini hari, Abdul Somad sudah berjalan keluar dari kontrakannya di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Meninggalkan istri dan anaknya, ia pergi ke Masjid Al-Ijtihad yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. "Sahur, sahur, ayo bapak, ibu, sahur," ujar Somad menggunakan mikrofon masjid. Membangunkan warga sekitar untuk sahur, memang dirasa Somad sudah menjadi kewajiban sebagai marbut masjid.

Di Usianya yang menginjak 57 tahun, lebih dari setengah usianya tersebut ia habiskan menjadi marbut masjid. Mengingatkan warga sekitar untuk segera bersantap sahur, sudah jadi rutinitasnya tiap Ramadan. Ironisnya, ia sendiri belum makan saat itu. Ia lebih memprioritaskan umat ketimbang dirinya sendiri. Dalam tiap seruannya saat membangunkan warga, ia juga selingi dengan lantunan selawat. 

Menariknya saat didatangi tim ACT, Somad nampak berkeringat dan bajunya basah. Gerah katanya, sehabis mengepel lantai masjid. Saat ditanya kenapa kipas angin masjid tidak dinyalakan, beliau mengaku tidak mau menambah biaya listrik masjid hanya untuk dirinya.

"Saya ikhlas mengabdikan diri menjadi marbut di sini. Tidak pernah berharap dibayar atau apa pun itu," ujar Somad, Rabu (29/4/2021).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Somad mengaku bergantung dari pekerjaan sang istri yang merupakan buruh cuci gosok. Sementara dirinya hanya dapat sedikit membantu dari uang yang terkadang diberikan pihak musala.

Pendapatan keluarganya yang pas-pasan tersebut, terkadang membuat keluarga Somad kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan saat Ramadan. Termasuk untuk sahur dan berbuka. Mereka biasanya hanya makan makanan seadanya, seperti sayur asem dengan tempe. "Pengin makan yang lain, tapi kalau uangnya cukupnya untuk itu, ya disyukuri saja yang ada. Lagian istri dan anak juga enggak pernah mengeluh," kata Somad.

Beruntung, lewat Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan, Humanity Food Truck milik Aksi Cepat Tanggap (ACT) hadir di wilayah dekat rumahnya. Ia pun menerima bantuan hidangan siap saji untuk sahur buatan buatan koki berstandar internasional yang bekerja sama dengan ACT .