Pengabdian Dakwah Aan di Sekitar Tempat Pembuangan Sampah Bantargebang

Aan menjadi guru mengaji di masjid sementara suami menjadi marbutnya. Bagi keluarga Aan, kegiatan di masjid adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT dan harus dijalani dengan ikhlas.

aan andasari
Aan Andasari usai menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI – Rabu (28/7/2021) lalu, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup dan paket pangan untuk Aan Andasari guru mengaji di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi. Sebagai guru yang ikhlas mengajar anak-anak, kehidupan keluarga Aan jauh dari layak. 

Aan, suami, dan keempat anaknya tinggal di rumah sederhana di dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang Pangkalan 5. Anak-anak yang mengaji pada Aan juga mayoritas anak-anak pemulung yang tinggal di sekitar masjid. Sehingga kondisi ekonomi orang tua anak-anak yang mengaji menengah ke bawah. 

Dalam mengajar ngaji, Aan digaji Rp200 sampai Rp300 ribu per bulan. Namun tidak setiap bulan Aan bisa mendapatkan gaji. Gaji akan dibayarkan kalau anak-anak membayar iuran, jika tidak ada yang membayar, maka Aan juga tidak digaji. 

“Kalau digaji itu tidak tentu. Kalau anak-anak lancar membayar iuran, setiap bulan Rp200 sampai Rp300 ribu. Kalau lagi macet saya tidak digaji,” kata Aan, Rabu (28/7/2021). 

Suami Aan menjadi seorang pemulung yang penghasilannya tidak tentu. Selain memulung, sang suami juga menjadi marbut masjid tempat Aan mengajar. Bagi Aan, kegiatannya dan sang suami di masjid bukanlah untuk mencari dunia, melainkan pengabdian yang bisa mereka lakukan kepada-Nya. 

“Suami memulung, pagi sebelum berangkat dan sore setelah pulang bersih-bersih masjid. Bagi kami, kegiatan di masjid itu ibadah, mengabdi kepada Allah. Untuk urusan dunia, bukan di sini (masjid) tempatnya. Jadi berapapun gajinya, tidak masalah,” pungkas Aan. []