Pengabdian Guru di Pulau Kasu, Rela Mengajar Tanpa Gaji Pasti

“Jadi guru hitungannya ikhlas. Mengabdi biar anak-anak di pulau terluar bisa tetap sekolah. Untuk makan, usaha lain,” kata Yusri, guru honorer di Pulau Kasu, Batam.

guru pulau kasu
Guru-guru Madrasah Nurul Ikhwan, Pulau Kasu. (ACTNews)

ACTNews, BATAM – Perjuangan guru-guru di pulau terluar untuk mewujudkan amanat UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa” sangatlah berat. Banyak guru rela tidak digaji namun tetap konsisten mengajar. 

Para guru satu sekolah di Pulau Kasu, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam, dibayar Rp500 ribu per bulan. Gaji tersebut dibayar jika bantuan dari pemerintah untuk operasional sekolah masih tersisa. 

Salah seorang guru, Yusri, menjelaskan siswa yang belajar di sekolahnya tidak dipungut biaya. Biaya operasional sekolah hanya bersumber dari pemerintah yang tidak setiap bulan cair. 

 

“Gaji guru belum tentu dibayar setiap bulan, bergantung pencairan dana BOS. Namun, dana itu lebih prioritas untuk operasional sekolah seperti pemeliharaan sarana dan prasarana, sisanya baru untuk gaji guru,” jelas Yusri, Sabtu (20/11/2021). 

Yusri melanjutkan, karena digaji kecil dan tidak pasti, para guru mencari penghasilan tambahan di luar jam sekolah. Seperti berjualan, les privat, juga menjadi nelayan. 

“Menjadi guru harus ikhlas. Mengabdi biar anak-anak di pulau terluar bisa tetap sekolah. Kalau untuk makan usaha lain seperti jadi nelayan, hasilnya sekitar Rp1 juta per bulan,” pungkasnya.

Untuk membantu perjuangan guru-guru di Pulau Kasu, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup. Atas bantuan dari para dermawan, para guru mengucapkan terima kasih banyak.[]