Pengabdian Guru di Tengah Rendahnya Pendapatan

Tak semua pejuang pendidikan di Indonesia kondisi ekonominya sejahtera. Masih banyak di antara mereka yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meski kondisi serba terbatas, para guru tak melepaskan tanggung jawab mereka sebagai pendidik generasi bangsa.

Pengabdian Guru di Tengah Rendahnya Pendapatan' photo
Ilustrasi. Azmiati, guru honorer di Bireun, Provinsi Aceh, sedang mengisi rapor anak muridnya dari rumah. Selama pandemi Covid-19, Azmiati sebagai guru terhambat karena tak memiliki ponsel pintar. (ACTNews/Amanda Jufrian)

ACTNews, TASIKMALAYA – Hani Khaerun Zaelani namanya, guru MDTA Miftahurohman, Desa Margamulya, Kecamatan Sukaresik, Tasikmalaya. Terhitung hingga hari ini, ia sudah mengabdikan diri di sekolah diniyah itu 21 tahun lamanya. Ia menjadi penerus dari pengajar sebelumnya. Kecintaannya pada dunia pendidikan menjadikan Hani totalitas menjadi pengajar walau dengan gaji seadanya saja. 

Sebagai guru, Hani hanya mendapatkan uang Rp6 ribu per siswa yang dia ajar. Uang ini pun dibilang sebagai sedekah karena tak ada paksaan bagi anak dari keluarga yang tak mampu. Uang sedekah tersebut pun terbilang rendah di tengah tingginya kebutuhan hidup. Apalagi, guru mengaji ini memiliki 6 orang tanggungan yang harus dipenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, bagi Hani, uang yang ia terima tak ada artinya, karena baginya pendidikan agamanya sejak dini untuk anak didiknya menjadi prioritas. 

"Saya mengajar ini ikhlas, saya ingin anak didik saya cerdas semua," ungkap guru yang juga menyambi pekerjaan sebagai penjaja makanan ringan ini, Kamis (1/10). 

Serupa Hani, Asep Arifin, guru MDTA Nurussibyan di Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Tasikmalaya juga memiliki pendapatan yang rendah selama menjadi guru. Pengabdian Asep di bidang pendidikan telah menginjak 19 tahun. Dan, saat ini ia mendapatkan uang dari mengajarnya hasil infak orang tua murid sebesar Rp5 ribu per bulan per siswa. Dengan pendapatan itu, Asep harus menghidupi 3 anggota keluarganya. "Tak penting uang yang saya dapat dari mengajar, yang penting anak didik saya bisa menjadi generasi cerdas penerus bangsa," harap Asep. 

Asep pun menuturkan bagaimana keadaan ekonomi keluarganya. Suatu waktu, ia dan keluarganya pernah tak memiliki uang untuk kebutuhan pangan. Puasa pun menjadi pilihannya. Ia dan keluarganya pun pernah tak memiliki uang selama 2 hari untuk membeli beras. Alhasil, singkong dan ubi menjadi santapan keluarga Asep. Walau begitu, tak pernah Asep mengeluhkan kondisi ini. Ia pun mengajarkan kepada keluarganya untuk tetap teguh pendirian ajaran Allah. 

Hani dan Asep merupakan sedikit dari banyaknya guru dengan totalitas pengabdian mereka pada pendidikan, namun ekonominya masih lemah. Hal ini sering ditemukan ACTNews di berbagai daerah saat menyambangi untuk ikut memberikan bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia bersama tim program Global Zakat-ACT. Riski Andriana, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia, Senin (5/10), mengatakan, nyaris di semua wilayah di Indonesia terdapat guru dengan kondisi ekonomi masih lemah, termasuk di Jakarta. Untuk itu, kesejahteraan guru menjadi salah satu fokus Global Zakat-ACT dalam mengelola dana zakat masyarakat yang dihimpun. Melalui bantuan biaya hidup, paket pangan serta pembinaan lewat pertemuan menjadi ikhtiar Global Zakat-ACT mendampingi guru di Indonesia. 

"Bantuan dari Sahabat Guru Indonesia tak hanya selesai begitu saja setelah penyerahan. Akan tetapi, akan ada pendampingan lewat pertemuan langsung maupun daring. Selain itu, tak sedikit juga guru-guru yang kemudian berminat bergabung menjadi relawan Masyarakat Relawan Indonesia untuk melanjutkan aksi-aksi kebaikan," jelas Riski. 

Namun, tambah Riski, biaya hidup dalam bentuk dana maupun paket pangan untuk guru prasejahtera dari program Sahabat Guru Indonesia belum mampu mengkover seluruh guru di Indonesia. Pasalnya, jumlah guru prasejahtera, khususnya honorer sangat banyak. Untuk itu, Global Zakat terus mengajak masyarakat untuk bisa terlihat dalam akai kebaikan ini. "Masyarakat bisa menyalurkan zakat mal-nya melalui Global Zakat. Jika bingung untuk perhitungannya, laman resmi Global Zakat menyediakan aplikasi perhitungan zakat. Zakat yang terhimpun akan digunakan untuk mendukung aksi-aksi kemanusiaan, salah satunya biaya hidup untuk pejuang pendidikan," ajak Riski.[]


Bagikan

Terpopuler