Pengabdian Guru Tanpa Batas di Sekolah yang Serba Terbatas

Gaji pas-pasan membuat guru honorer di pedalaman Kalimantan Barat sering berutang dan kesulitan membiayai pengobatan. Gedung sekolah tempat mereka mengajar pun memprihatinkan. Meski berada dalam keterbatasan, guru-guru di sana tetap semangat mengajar anak muridnya.

MIS Nurul Mukhlisin
Nawardi saat sedang memberikan pelajaran. (ACTNews)

ACTNews, KUBU RAYA Menjadi pejuang pendidikan di pedalaman Nusantara tidaklah mudah. Selain kondisi ekonomi yang tak ada jaminan, mereka pun harus mengajar dengan berbagai keterbatasan. Zubairi dan Nawardi di antaranya. Guru honorer di salah satu SMP di Dusun Beringin, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya ini hidup dalam keadaan ekonomi prasejahtera. Sekolah tempat mengajar mereka pun memprihatinkan.

Sebagai guru yang telah sembilan tahun mengabdi, Zubairi hanya menerima gaji Rp300 ribu per bulan. Uang tersebut dimanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Sayang, terkadang gajinya tak cukup untuk hidup satu bulan. Alhasil, berutang menjadi caranya mencukupi keperluan rumah tangga.

"Gaji yang saya terima per bulan Rp300 ribu. Alhamdulillah walaupun dengan gaji segitu, masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga, walau kadang terpaksa utang ke toko tetangga," kata Zubairi, Selasa (22/6/2021). 

Sementara, Nawardi memiliki gangguan pada sarafnya. Saat sakitnya kambuh, apalagi di sekolah, membuat siswa-siswa ketakutan. Gejala yang ditunjukkan ialah kejang dan sulit bergerak. Pengobatan sudah diupayakan ke sana ke mari di Kubu Raya, tapi belum juga menemui kesembuhannya karena harus menjalani operasi di Jakarta.

"Sakit sudah lama, anak-anak sampai ketakutan kalau (penyakit) kambuh. Sudah berobat ke sana ke mari, tapi katanya harus di operasi di Jakarta, cuma ya kendala biaya" kata Nawardi. 


Kondisi sekolah tempat Nawardi dan Zuairi mengajar. (ACTNews)

Sekolah tempat Zubairi dan Nawardi mengajar berada di Dusun Beringin, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, tepatnya di sisi tenggara Kota Pontianak. Lokasi sekolah jauh dari pusat kota, butuh waktu berjam-jam untuk mencapai ke sana.

Akses jalan ke Desa Puguk masih berupa tanah, sehingga perjalanan akan memakan waktu lebih lama. Ketika musim hujan, roda rawan selip dan kendaraan khawatir tergelincir. Saat malam hari, kondisi jalan gelap karena belum ada aliran listri serta harus membelah hutan.

Gipsum yang telah lapuk menjadi dinding sekolah tempat Zubairi dan Nawardi mengajar. Lantainya dari kayu yang juga sudah termakan usia dan cuaca. Atap sekolah terbuat dari seng, sehingga panas akan mengepung seisi ruangan saat cuaca cerah. Sedangkan, papan tulis kapur masih menjadi medium pembelajaran.[]