Pengabdian Mansur untuk Pendidikan di Pedalaman Gowa

Bertahun-tahun puluhan anak di pedalaman Gowa harus belajar di sekolah dengan kondisi apa adanya. Mansur, sang guru tunggal pun tetap teguh mengajar walau tak ada imbalan gaji besar. Yang terpenting baginya anak-anak di sekitar sekolah bisa menempuh pendidikan.

Pengabdian Mansur untuk Pendidikan di Pedalaman Gowa' photo
Kondisi MI Yapit Borong Nangka yang ada di pedalaman Gowa. Sekolah dengan guru tunggal ini menjadi harapan bagi puluhan siswa untuk menimba ilmu. (ACTNews)

ACTNews, GOWA – Anyaman bambu jadi sekat antarkelas di Madrasah Ibtidaiyah Yapit Borong Nangka yang ada di Lingkungan Parangkeke, Kelurahan Cikoro, Tompobulu, Kabupaten Gowa. Tanah menjadi alas kelas, sedangkan atap dari seng yang akan memanas ketika terik dan akan menghasilkan bising saat hujan deras melanda. Di dalam satu kelas hanya ada satu papan tulis serta meja dan kursi belajar yang terbatas jumlahnya. Sedangkan satu ruang tersebut digunakan untuk dua anak yang duduk di dua tingkat.

Di sekolah yang ada di pedalaman Kabupaten Gowa itu, hanya ada satu guru. Ialah Mansur yang sudah mengabdikan diri di sekolah tersebut. Selain menjadi guru tunggal, Mansur juga merupakan perintis sekolah kelas jauh tersebut. Keprihatinannya atas pendidikan anak-anak di sana, membuat pria lulusan salah satu perguruan tinggi Islam di Makassar ini memilih mengabdikan diri di jalan pendidikan. Tak ada gaji besar, hanya Rp250 ribu/bulan gaji Mansur, itu pun harus dirapel tiap tiga bulan. Untuk itu, bekerja sebagai petani menjadi pilihannya untuk bisa mendapatkan uang tambahan.

Beberapa tahun lalu saya mulai merintis sekolah dengan mengajukan ke beberapa sekolah induk untuk membuka kelas jauhnya. Akhirnya sekolah ini jadi dari Madrasah Ibtidaiyah Yapit Lembangbu'ne,” jelas Mansur.

Sebelum bangunan sekolah yang saat ini berdiri ada, Mansur telah memulai pengabdiannya di bidang pendidikan dengan membuka kegiatan belajar-mengajar di kolong rumahnya. Beberapa tahun kemudian ada dermawan yang mewakafkan tanahnya untuk bisa dibangun sekolah yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan karena belum pernah tersentuh renovasi. Tapi semua itu tak pernah jadi kendala bagi Mansur, bahkan saat ini ia memiliki 53 murid di enam kelas yang ia ajar sendiri.

Pembangunan kelas baru belum tuntas

Terhitung sejak 21 Juli lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memulai pembangunan kelas baru untuk MI Yapit Borong Nangka dari dana yang digalang melalui laman Kitabisa. Dari target Rp200 juta, dana yang berhasil terkumpul nilainya Rp21,4 juta. Dari dana itu juga, ACT bersama pihak sekolah memulai pembangunan. Namun, hingga kini satu kelas pun belum selesai terbangun karena pengadaan bahan bangunan yang tinggi dan dana tak mencukupi.

“Inisiasi pembangunan kelas untuk MI Yapit Borong Nangka karena keprihatiann kami yang melihat kondisi bangunan sekolah yang kurang layak serta fasilitas yang terbatas, malah 1 kelas sempir digunakan untuk 2 tingkat,” jelas Andi Syurganda Haruna dari tim Program ACT Sulsel, Senin (14/9).

Awal perjumpaan ACT dengan MI Yapit Borong Nangka terjadi pada 2017 silam saat implementasi program Tepian Negeri. Sekolah tersebut mengingatkan pada kisah Laskar Pelangi yang terkenal lewat filmnya. Namun, kondisi di Yapit Borong Nangka ini lebih memprihatinkan, selain kondisi sekolah yang serba terbatas, akses untuk sampai ke sana pun cukup sulit. Kendaraan roda empat tak bisa sampai ke sana, untuk kendaraan roda dua pun harus melewati medan yang cukup berat.

“Bagi dermawan yang ingin terlibat dalam penyelesaian pembangunan kelas baru untuk MI Yapit Borong Nangka, bisa bersedekah melalui rekening Sulselbar Syariah 5100 5321 0417 1658 atas nama Aksi Cepat Tanggap. Setelah itu, bisa melakukan konfirmasi dengan mengirimkan bukti pengiriman dana melalui WhatsApp 0821-9224-1414 atau bisa datang langsung ke Kantor Cabang ACT Sulsel yang ada di Makassar,” ajak Andi.[]


Bagikan