Pengalaman Dai di Tepian Negeri Membimbing Para Mualaf

“Perlu kesabaran yang cukup besar karena mualaf datang dari latar belakang yang berbeda-beda,” kata Dai di Kota Subulussalam Ustaz Justri Iskandar Berutu.

ustaz membimbing mualaf
Ustaz Juliamin Banurea usai menerima bantuan biaya hidup program Sahabat Dai Indonesia dari Global Zakat-ACT, Selasa (24/8/2021). (ACTNews)

ACTNews, SUBULUSSALAM – Mualaf adalah muslim yang harus dibimbing dengan lemah lembut dan telaten. Dalam membimbing mualaf diperlukan kesabaran dan waktu. Hal itu dialami betul oleh Ustaz Justri Iskandar Berutu (36) dalam membimbing mualaf di Dusun Air Terjun, Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, Aceh. Ustaz Justri mengatakan, mualaf diibaratkan sebagai wadah yang kosong dari pengetahuan Islam. Dalam mengisi wadah tersebut harus pelan-pelan. 

“Perlu kesabaran yang cukup besar karena mualaf datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Harus siap menjawab pertanyaan apapun tentang Islam, bahkan yang menurut kita ‘anak kecil juga tahu’ itu sering ditanya, seperti doa-doa keseharian. Jangan disepelekan, jawab saja dengan lembut,” kata Ustaz Justri, Selasa (24/8/2021).

Sama halnya dengan Ustaz Justri, Ustaz Juliamin Banurea juga mengalami hal yang sama. Menurut Ustaz Juliamin, mualaf adalah orang yang  harus dibimbing dengan hati-hati dan istikamah. 

“Belum banyak pengetahuan, minimnya pembinaan ajaran Islam, dan pemberdayaan ekonomi, bisa membuat para mualaf malas beribadah. Bahkan ada yg kembali kepada keyakinan semula. Ini terjadi jika mualaf tidak benar-benar dan istikamah dibimbing,”  ujar Ustaz Juliamin. 

Untuk membimbing para mualaf, pada tahun 2017 Ustaz Juliamin mendirikan Mualaf  Center (MC) di Kampung Lae Ikan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Di sini para mualaf akan dibimbing, baik keagamaan dan pelatihan ekonomi yang berbasis kerakyatan.[]