Pengalaman Dakwah Ustaz Main Pria: Pernah Dilarang Membangun Masjid

Pengalaman dakwah Ustaz Main Pria sejak tahun 1993 di Landak, Kalimantan Barat sangat panjang. Seperti harus membongkar masjid yang sedang dibangun hingga dakwah dari rumah ke rumah ia lakukan.

ustaz main pria
Ustaz Main Pria saat sedang mengajar anak-anak mengaji. (ACTNews)

ACTNews, LANDAK – Dakwah perlu perjuangan. Hal itulah yang dirasakan Ustaz Main Pria. Ia berdakwah di salah satu desa di Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Penolakan dan pasang surut warga mengikuti dakwahnya sudah sering terjadi, namun itu semua tidak menggoyahkan perjuangannya.

Ustaz Main Pria berasal dari Gresik, ia datang ke Landak pada 1989 diajak seorang dosen salah satu universitas negeri di Pontianak. Bersama temannya ini, Ustaz Main ingin mendirikan masjid di tempatnya berdakwah. Ia ingin agar pembinaan para mualaf dipusatkan di masjid sehingga kegiatan dakwah tidak dilakukan dari rumah ke rumah. 

Masjid yang sedang dalam proses pembangunan harus dibongkar karena tiba-tiba dilarang. Tiang-tiang yang sudah berdiri terpaksa dicabut.

 

“Akibat dilarang dan pembangunan (masjid) tertunda, akhirnya semangat warga yang sudah mualaf kembali meredup. Apalagi dosen yang mengajak saya lebih dulu menghadap Allah, sehingga saya harus berjuang terseok-seok sendiri,” kata Main Pria, Sabtu (7/8/2021). 

Setelah berjuang, akhirnya masjid berhasil dibangun pada 1991. Namun kendala tidak berhenti. Ustaz Main Pria  harus mengajak jemaah dengan mengetuk pintu-pintu rumah, agar mau ke masjid dan menghidupkannya. Ia tidak mau masjid yang sudah dibangun dengan susah payah dibiarkan dan tidak dihidupkan. 

“Saya mengajak dari rumah ke rumah, ayo kita belajar bersama. Menghidupkan masjid dengan kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti salat berjemaah dan pengajian. Anak-anak dan orang tua semuanya saya ajak,” katanya.


Kondisi rumah Ustaz Main Pria. (ACTNews)

Dalam menghadapi tantangan dalam berdakwah, Ustaz Main punya prinsip “Ibarat menebang pohon, itu harus pelan-pelan hingga kapak berhasil menggulingkan kayunya.” Dalam dakwah juga harus pelan-pelan, belajar bagaimana caranya agar dakwah berhasil.

“Walaupun jemaahnya pasang-surut, kadang ramai 25 sampai 30 orang, kadang juga hanya 5 orang. Namun Pengajian tetap harus berjalan, berapa pun yang hadir. Sekarang alhamdulillah sbelum pandemi, sudah banyak yang mau ke masjid baik anak-anak maupun orangtua,” jelas Bapak tiga anak ini.

Dalam berdakwah dan membimbing masyarakat, Ustaz Main tidak dibayar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia ternak kambing. Sebelumnya ia menjadi petani, namun karena hasil panen yang kurang memuaskan, ia beralih menjadi peternak.[]