Pengalaman Mendebarkan Fauzi Baadila Saat Antarkan Bantuan di Idlib

Relawan ACT sekaligus figur publik Fauzi Baadila ungkap pengalaman saat mendistribusikan bantuan ke Idlib, Suriah. Bersama tim ACT, Fauzi berangkat menuju ke Turki untuk mengantarkan bantuan ke Idlib awal Januari lalu.

Pengalaman Mendebarkan Fauzi Baadila Saat Antarkan Bantuan di Idlib' photo
Fauzi Baadila mengunjungi Idlib, Suriah, bersama Aksi Cepat Tanggap untuk memberi bantuan musim dingin berupa paket pangan. Keadaan Suriah. Sebanyak 18 warga sipil dilaporkan meninggal dunia dalam serangan udara yang terjadi di Kota Idlib, Suriah, dilansir dari AFP. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR)pada Rabu (15/1) lalu. (ACTNews)

ACTNews, KAYSERI, JAKARTA – “Wah perasaannya berkecamuk,” ungkap Fauzi Baadila saat melakukan telekonferensi dengan tim Aksi Cepat Tanggap di Jakarta pada Jumat (18/1). Saat itu, Fauzi sedang berada di Kayseri, Turki. Sudah lebih dari satu minggu ia berada di Turki bersama Firdaus Guritono dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT. Dalam rangkaian aksi kemanusiaan pekan lalu, Fauzi bersama Firdaus masuk ke wilayah ke Idlib, Suriah.

Bagi Fauzi, ada beberapa hal yang cukup mencekam saat ia berada di Idlib. "Saat distribusi bantuan di pusat Kota Idlib, ada orang Suriah tiba-tiba memegang kepala saya dan mengarahkan pandangan saya ke arah langit. Saya kira bercanda, ternyata di langit depan saya ada pesawat tempur lagi keliling dan menjatuhkan 4 rudal sekaligus dan itu tepat berada di depan mata saya," kisah Fauzi.

Ketika ia melihat langsung ancaman pesawat tempur, Fauzi merasa terkejut dan tidak bisa melakukan apa-apa selain mengucapkan kalimat syahadat. Setelah menenangkan diri beberapa menit, ia bersama Firdaus menuju ke mobil untuk bergegas ke utara, arah Salqin. "Di sana (Salqin) kami lantas menginap di asrama hafiz Alquran dan melanjutkan untuk mendistribusikan bantuan keesokan harinya," sambung Fauzi. Ia pun kembali bersyukur kepada Allah atas keselamatannya.

Di samping momen mengancam jiwa, ia juga merasakan bagaimana sulitnya kehidupan parang pengungsi Suriah. Pernah ia bermalam bersama mereka di sebuah tenda yang hanya terbuat dari terpal dan berdinding tipis. Rasa dingin seakan menusuk tulang, belum lagi kondisi malam yang juga tidak absen dari dentuman. Kondisi ini begitu menyayat hatinya.

"Tendanya tipis sekali. Pernah saya mau tidur tiba-tiba ada suara 'dem dem dem duar'. Saya langsung duduk dan berdoa, karena takut (peluru) nyasar. (Kondisi ini) benar-benar menyayat hati saya, melihat rumah-rumah yang sudah bolong dindingnya akibat terkena serangan rudal dan kaca yang sudah pecah juga," ungkap Fauzi.

Hatinya makin terenyuh ketika menerima langsung ucapan syukur pengungsi Suriah, yang berkali-kali mendoakan orang-orang Indonesia atas. “Bahkan berkali-kali disebut. Itu salah satu hal yang menggores hati saya. Mereka khusus mendoakan orang Indonesia yang membantu mereka. Dapat salam dari saudara-saudara kita di Idlib, dari anak-anak kecil, orang dewasa, salam buat Indonesia,” kata Fauzi penuh semangat.

Januari ini, Aksi Cepat Tanggap mengantarkan bantuan musim dingin berupa lebih dari 20 ton paket pangan dan 50 ton terigu yang diolah menjadi roti. ”Secara bersamaan di wilayah Idlib utara juga didistribusikan bantuan musim dingin, makanan siap saji, akan segera digagas selimut dan bantuan lainnya.

Selama hampir satu dekade konflik Suriah, ACT turut serta meringankan derita penduduk Suriah melalui sejumlah program kemanusiaan. Sejak 2012, ACT senantiasa mendistribusikan bantuan untuk masyarakat Suriah. Bantuan diberikan melalui sejumlah program kemanusiaan berkelanjutan di bidang pangan, sandang, layanan kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

“Adapun sejumlah program yang disiapkan  adalah 1.000 paket pangan, 2.000 paket roti, peralatan musim dingin (pakaian hangat, selimut, bantal, kasur, bahan bakar, dll), emergency house seluas 24 meter persegi, dan 10 unit bus yang bersiaga untuk memobilisasi eksodus penduduk jika terjadi serangan. Hingga saat ini, tidak hanya di Indonesia kami pun terus bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat global dalam aksi serta program kemanusiaan yang terencana, terukur, serta tepat sasaran,” tegas Direktur Global Humanity Response – Aksi Cepat Tanggap Bambang Triyono saat konferensi pers di Kantor ACT, Kamis lalu.[]


Bagikan