Pengorbanan Sarman: Menyisihkan Penghasilan Jadi Kuli untuk Pendidikan Islam

Prihatin melihat pendidikan anak-anak di kampungnya yang rendah, Ustaz Sarman mengabdi dan mengorbankan penghasilannya untuk mengajar anak-anak mengaji dan belajar Islam. Meski fasilitas minim, semangatnya tidak kendur.

ustaz sarman
Ustaz Sarman saat ditemui tim ACT Bogor Barat di ruamahnya. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Letak Kampung Pasir Honje, Desa Cibeber II, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor berjarak 32,2 kilometer arah Barat Daya dari Kota Bogor. Jalan untuk menuju kampung tersebut cukup sulit karena perbukitan dan masih terdapat jalan berkontur tanah yang sulit dilewati saat musim hujan. 

Di kampung itulah, Ustaz Sarman mengabdikan hidupnya untuk mengajar mengaji dan Islam anak-anak. Lokasi yang jauh dari kota membuat fasilitas untuk mengaji atau menempuh pendidikan formal terbatas. Masih banyak anak-anak desa yang sekolah hanya sampai SMP. 

“Di sini ada SMK Leuwiliang jaraknya sekitar lima kilometer lewat jalan setapak. Jadi banyak yang sekolah hanya sampai SMP, katanya (melanjutkan SMA) jauh. Ekonomi juga membuat para orang tua lebih memilih mengajak anak-anaknya ke ladang daripada harus melanjutkan sekolah SMA,” kata Ustaz Sarman, Selasa (24/8/2021).

Melihat kondisi tersebut, Ustaz Sarman prihatin namun tidak mampu berbuat banyak. Ia bertekad, jika anak-anak penduduk di sekitarnya tidak mampu sekolah formal lebih tinggi, maka pendidikan agama Islam tidak boleh dikesampingkan. 

“Akhirnya saya tekadkan kalau anak-anak, meski tidak sekolah tetapi pengetahuan tentang Islam tidak boleh tidak tahu. Jadi saya mengajar mengaji, lalu dilanjutkan memberi pelajaran tentang dunia Islam,” ujarnya. 

Karena terbatasnya fasilitas, Ustaz Sarman seringkali harus merogoh kocek sendiri untuk membeli Al-Qur’an, membayar listrik, atau buku pelajaran agama untuk anak didiknya. Bahkan tempat mengaji anak-anak berdiri di atas lahan miliknya. 

“Saya kerja apa saja, kuli bangunan atau buruh tani di ladang orang. Kalau lagi enggak ada kerjaan, listrik mati jadi anak-anak mengaji gelap-gelapan pakai lilin. Untuk makan sehari-hari dari buruh tani itu,” jelasnya. 

Untuk membantu meringankan beban Ustaz Sarman, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup, perlengkapan ibadah, dan paket pangan, Selasa (24/8/2021). Menurut Ustaz Sarman, bantuan tersebut akan ia gunakan untuk membeli kebutuhan anak-anak belajar.[]