Pengungsi dari Wamena Dilingkupi Trauma

Konflik kemanusiaan yang terjadi di Wamena membawa dampak buruk bagi warga terdampak. Hingga kini mereka masih mengalami trauma dan belum berani kembali ke Wamena.

Pengungsi dari Wamena Dilingkupi Trauma' photo
Pengungsi dari Wamena yang diangkut dengan pesawat hercules milik TNI ke Sentani, Selasa (1/10). Mereka hendak mengungsi ke Sentani akibat konflik sosial di Wamena. (ACTNews/Yusnirsyah Sirin)

ACTNews, WAMENA – Delapan hari sudah Suherman berada di Bataliyon Infanteri 751 Jayapura. Di markas TNI di Sentani itu ia serta ribuan orang lainnya mengungsi untuk menyelamatkan diri dari konflik sosial yang sedang terjadi di Wamena, Jayawijaya. Konflik itu membawa luka batin serta fisik Suherman.

Sama halnya dengan Ardi. Bersama sang istri, Hermawati, serta ketiga anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar mereka mengungsi ke Jayapura. Menumpang pesawat Hercules milik TNI, sejak Senin (23/9) atau hari pertama kembali pecahnya konflik di Wamena, Ardi memboyong keluarganya ke Jayapura untuk berlindung. “Kami harus antre berjam-jam untuk dapat giliran ikut pesawat ke Jayapura, kondisi di Wamena tidak kondusif,” ungkap Ardi, Senin (30/9).

Ardi merupakan warga Wamena asal Makassar. Ia merantau ke Papua sebagai pedagang di Pasar Jibama, Wamena. Saat ini ruko miliknya serta ratusan ruko lain rusak dan terbakar akibat konflik sosial yang terjadi di sana. Hingga kini, Ardi dan anaknya belum mau kembali ke Wamena akibat trauma.

Di lokasi yang sama, yakni Yonif 751 Jayapura, Muhammad Erwin juga bertahan di pengungsian. Keinginannya saat ini ialah kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Ia masih belum mengetahui kapan akan kembali ke Wamena karena trauma.


Seorang bocah pengungsi yang mengantre makanan di dapur umum Kodim 1702/Jayawijaya, Senin (30/9).  Ia dan ribuan orang lainnya mengungsi di dari konflik sosial di Wamena. (ACTNews/Akbar)

Dari data yang dihimpun ACT, warga Pesisir Selatan yang menjadi korban meninggal dunia akibat konflik sosial di Wamena berjumlah sembilan orang. Mereka ialah perantau yang menjadi tulang punggung keluarga yang berada di Pesisir Selatan. Ahad (29/9) kemarin, ACT juga telah menyerahkan santunan kepada pihak keluarga.

Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Chandra Diyanto mengatakan, situasi Kabupaten Jayawijaya berangsur kondusif pascakonflik, namun belum terlihat aktivitas pendidikan, pemerintahan serta perekonomian belum pulih. Pasalnya, sebagian besar warga Wamena saat ini masih mengalami trauma akibat konflik yang berlangsung sejak Senin (23/9) lalu itu. “Secara umum pengungsi di Kodim 1702/Jayawijaya dalam keadaan sehat, hanya beberapa yang mengalami flu karena dinginnya udara serta diare akibat sarana MCK yang kurang memadai,” jelas Chandra, Senin (30/9).

Hingga saat ini, ACT terus melakukan pendampingan kepada warga terdampak konflik di Wamena. Posko kemanusiaan ACT sendiri telah dibuka di kota Wamena serta Sentani di Jayapura. Dapur umum juga telah disiapkan untuk menyediakan makanan siap santap bagi pengungsi serta petugas keamanan. []

Bagikan

Terpopuler