Pengungsi Dicekam Trauma, Suasana Malam di Pengungsian Nyaris Tak Ada Kehidupan

Sekadar hiburan dari televisi tak ada, juga suasana hangat dari keluarga. Itulah yang sedang dirasakan ribuan pengungsi konflik sosial Wamena sekarang ini.

Pengungsi Dicekam Trauma, Suasana Malam di Pengungsian Nyaris Tak Ada Kehidupan' photo
Ahmad Jumairi sedang menggunakan gawainya untuk memberi kabar ke anaknya yang berada di Probolinggo, Selasa (8/10). Ahmad merupakan salah satu pengungsi di Yonif 751 Sentani akibat konflik kemanusiaan di Wamena. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAYAPURA – Suasana malam di pengungsian Batalyon Infanteri 751 Sentani, Jayapura ramai, Selasa (8/10) malam. Sebuah aula yang digunakan untuk pengungsi konflik sosial Wamena penuh, bahkan hingga ke pelataran aula. Para pengungsi bercengkerama, penuh obrolan mengisi waktu malam.

Kopi, jagung rebus serta roti menjadi teman santapan mereka. Tak terkecuali Ahmad Jumairi (41), warga Wamena asal Probolinggo, Jawa Timur. Ia sudah menempati pengungsian sejak sepekan terakhir. Tangannya terbalut perban, tanda ia mengalami luka fisik.

“Tangan saya patah, kena lemparan batu ketika koflik pecah. Ini sudah dapat perawatan medis, dipakaikan pen. Tapi sekarang lagi nyeri karena pen sempat bergeser,” ungkapnya, Selasa (8/10) malam.

Malam itu, Ahmad sedang duduk bersama rekan-rekannya sesama pengungsi di emperan aula Yonif 751 Sentani. Tak banyak aktivitas yang ia lakukan ketika di pengungsian malam hari. Hanya duduk di luar gedung aula hingga kantuk tiba, dan masuk ke dalam untuk lekas merebahkan tubuhnya.

Alunan musik dari gawai pengungsi terdengar sebagai pemecah sunyi. Di tengah kesunyian, suara musik menjadi penanda masih ada tanda-tanda kehidupan di lokasi pengungsian warga Wamena ini. Lokasi pengungsian di Batalyon Infanteri 751 Sentani, Jayapura ini adalah salah satu tempat penampungan pengungsi. Sudah dua pekan lebih ribuan jiwa menempati titik-titik pengungsian yang tersebar di berbagai titik di Jayapura. Meskipun dipadati banyak orang, jangan bayangkan ada suasana hangat keluarga di sini. Masing-masing orang kerap tenggelam dalam lamunannya sendiri, membayangkan keluarga dan orang-orang terkasih mereka. 

“Sendirian saya di sini, istri sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu, dua anak saya tinggal di Probolinggo, di Wamena saya sendiri, tinggal di salah satu masjid,” ungkap Ahmad yang juga berprofesi sebagai tukang ojek di Wamena.


Suasana di pengunsian Yonif 751 Sentani, Kamis (10/10). Satu hari setelah ini para pengungsi pulang ke kampung halamannya masing-masing menggunakan Kapal Dobonsolo dengan tujuan Bau-bau, Makassar hingga Surabaya. (ACTNews/Eko Ramdani)

Hal yang sama dilakukan Jumali (41) di pengungsian Yonif 751 Sentani, Jayapura. Ia bersama rekan sesama pengungsi duduk di emperan aula. Mengisi waktu malam.

Saat ini, sebagian besar pengungsi hanya berkeinginan untuk pulang ke kampung halamannya, belum berani kembali ke Wamena. Memang, pascakonflik, warga Wamena menyingkir untuk sementara dari ibu kota kabupaten Jayawijaya itu. Kabupaten sekitar Jayawijaya dan kota Jayapura menjadi tempat menampung pengungsi terbanyak. Sebagian besar pengungsi itu menanti kesempatan pulang ke kampung kelahiran. 

Ahmad dan Jumali termasuk di antara warga yang belum berkeinginan kembali ke Wamena dalam waktu dekat ini. Mereka ingin kembali ke tempat kelahiran mereka di Jawa Timur. Kamis (10/10) mereka dipulangkan ke Jawa Timur menggunakan pesawat oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama 25 orang lainnya.

Selain Ahmad dan Jumali, masih ada ribuan orang lain yang ingin kembali ke kampung halamannya untuk memulihkan trauma.[] 

Bagikan