Pengungsi Donggala Bekerja Serabutan untuk Bertahan

Pengungsi Donggala Bekerja Serabutan untuk Bertahan

ACTNews, DONGGALA – Sudah setengah hari itu Atiriah (35) mengupasi kacang tanah. Dengan batu dan kayu di tangan, ia gesit memukul kulit kacang dan memisahkan dari isinya. Sabtu (3/11) sore, sekiranya ia telah mengupas tiga kilo gram kacang kulit.

Pekerjaan mengupas kacang memang dilakukan sejumlah ibu-ibu di pengungsian Salambone. Upah yang diberikan berkisar Rp 20 ribu per tiga kaleng. Di tengah masa mengungsi itu, menjadi pengupas kacang adalah salah satu pekerjaan yang masih bisa dilakukan untuk tetap mendapatkan penghasilan.

Desa Sambalone terletak tidak jauh dari Pelabuhan Pantoloan. Sejumlah warganya bermata pencaharian sebagai nelayan dan buruh pelabuhan. Akbar (49), salah satu pengungsi yang lain, mengumpulkan penghasilan dari upah menguli di Pelabuhan Pantoloan. Sebelum bencana melanda, ia menjadi salah satu buruh bongkar muat barang dari kapal.

Di tempat yang sama, Mustamin (72) masih belum bisa kembali bekerja. Sebagai nelayan yang terdampak tsunami, ia kehilangan mata pencaharian. Selain rumah yang hilang, perahu dan alat tangkap miliknya rusak terlumat ombak.

"Belum tahu kapan bisa bekerja lagi, belum punya perahu. Mesin perahu juga mahal. Sementara sekarang mengandalkan bantuan yang datang untuk hidup sehari-hari," cerita Mustamin ketika ditemui saat implementasi paket sembako di pengungsian Dusun Satu Malona, Desa Salambone, Wani, Donggala, Sabtu (3/11).

Sabtu, tim relawan di Posko Wani mendistribusikan sejumlah paket sembako kepada penyintas bencana di Desa Salambone. "Dengan adanya bantuan kali ini, stok (persediaan sembako) mereka aman. Ibu-ibu juga gembira punya stok minyak banyak, biasanya persediaan logistik ibu-ibu hanya kebagian minyak goreng ukuran setengah gelas plastik air mineral," papar Hamzah selaku Koordinator Posko Wani ACT.

Pengungsian yang belum memadai

Pascabencana gempa dan tsunami, warga asal Desa Salambone mengisi salah satu tanah lapang, tidak jauh dari desa asal mereka. Areanya harus masuk beberapa meter ke sebuah jalan setapak, melewati pemakaman umum di mulut gang.

Keadaan pengungsian warga Salambone terbilang belum layak. Sebulan gempa telah berlalu, tenda-tenda yang digunakan masih berupa terpal tanpa pintu. Siang hari, panas matahari dengan mudah menusuk kulit, bila malam angin ganti menusuk sendi. Berdasarkan pantauan tim ACT, Sabtu (3/11), kebersihan di pengungsian Salambone juga tidak terbilang layak. Bahkan, air untuk mencuci piring dihinggapi lalat.

Koordinator Posko Wani Hamzah menceritakan, hampir seminggu lalu seorang penyintas yang tinggal di salah satu tenda wafat karena sakit. Ia belum sempat mendapatkan pertolongan medis.

"Dia kalau malam tidak bisa tidur, dan pagi kan di sini juga panas, juga tidak bisa tidur. Daya tahan tubuhnya menurun dan sakit," jelasnya.

Kecamatan Wani, Kabupaten Donggala, menjadi salah satu daerah terdampak gempa parah. Ratusan rumah warga hancur dan sebagian belum memiliki mata pencaharian baru. []