Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok Hadapi Bahaya Ganda di Tengah Pandemi Covid-19

Selain air bersih dan makanan, pengungsi erupsi Gunung Ile Lewotolok juga membutuhkan bantuan masker. Saat ini Kabupaten Lembata kembali ditetapkan sebagai zona merah penyebaran Covid-19.

Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok Hadapi Bahaya Ganda di Tengah Pandemi Covid-19' photo
Kondisi Gunung Berapi Ile Lewotolok Senin (30/11) pagi. (Dok. PVMBG)

ACTNews, LEMBATA Bantuan darurat berupa air minum, bahan makanan, terpal, dan masker masih amat dibutuhkan pengungsi erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Muhammad Jamal, relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) - ACT yang berada di Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata melaporkan, saat ini pengungsi amat kekurangan masker dan tempat berteduh.

“Kabupaten Lembata ditetapkan sebagai zona merah, jadi memang cukup berisiko. Tenda pengungsi juga masih sangat kurang, kebanyakan dari pengungsi akhirnya memilih tidur di pinggiran toko, kantor bupati, dinas catatan sipil, atau rumah kerabat,” terang Jamal saat dihubungi ACTNews, Senin (30/11) pagi.

Jamal menerangkan, pengungsi yang berasal dari Kecamatan Ile Ape Timur dan Ile Ape terpaksa mengungsi ke ibu kota kabupaten, Kota Lewoleba. Sementara di kota, kondisi pengungsi yang berjumlah ribuan juga belum kondusif.

Lebih lanjut, Selasa siang Jamal bersama relawan lainnya akan mengantarkan bantuan tahap awal berupa air minum, pangan, dan masker ke pusat-pusat pengungsian.

“Bantuan ini sebagai respons awal. Berdasarkan hasil asesmen dan fakta yang kami lihat dua hari ini ya, pengungsi dari desa mengungsi di kota, tidur di depan toko atau di mana pun, tanpa tenda, tanpa selimut. Insyaallah bersama kita bisa mendukung kebutuhan pengungsi dengan bantuan yang lebih baik lagi,” lanjut Jamal.

Gunung Ile Lewotolok masih kembali erupsi pada Senin dini hari. Hingga pukul 08.33 WITA, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana  (PVBG) melaporkan tujuh kali erupsi dengan beberapa di antaranya diikuti dentuman.

Senin pagi, kolom abu vulkanik teramati ± 1.400 meter di atas puncak atau sekitar ± 2.823 meter di atas permukaan laut. Kolom abu vulkanik berwarna kelabu tebal condong ke arah barat. 

Sebelumnya, Ahad (29/11) status Gunung Ile Lewotolok mengalami erupsi kedua pada pukul 09.45 WITA. Statusnya kemudian dinaikkan menjadi siaga pada Ahad siang dari level II atau waspada.  Erupsi itu juga menyebabkan hujan material berupa pasir berdampak hingga rumah penduduk di radius empat kilometer.

Tiga hari sebelumnya, Kamis (26/11), gempa vulkanik dalam terekam pada pukul 19.47 WITA dan terekam kembali secara beruntun hingga pukul 22.55 WITA. Jumat (27/11) gempa vulkanik dalam kembali terekam pada pukul 2.42, 5.37, dan 5.56 WITA, dan gempa tektonik lokal pada pukul 4.11 WITA. Erupsi atau letusan kemudian terjadi pukul 5.57 WITA.

Pasca letusan terekam tremor hingga pukul hingga pukul 7.50 WITA. Visual asap erupsi teramati dengan intensitas tebal berwarna abu-abu kehitaman dengan tinggi kolom asap sekitar 500 meter di atas puncak condong dan terbawa angin ke arah barat.[]

Bagikan

Terpopuler