Pengungsi Gempa Ambon Kesulitan Air Bersih

Lokasi pengungsian yang berada di atas perbukitan membuat pengungsi mesti menampung air yang menetes dari pipa PDAM sebagai kebutuhan sehari-hari.

Pengungsi Gempa Ambon Kesulitan Air Bersih' photo
Anak-anak sedang menampung air yang menetes dari dari pipa PDAM. (ACTNews/Maya)

ACTNews, MALUKU TENGAH - Pascagempa M6,5 yang mengguncang Kabupaten Maluku Tengah pada Kamis (26/9) lalu, sebagian warga masih bertahan di tempat pengungsian. Selain karena rumahnya rusak, warga juga masih trauma karena setelah gempa besar itu, gempa susulan terus terjadi.

Letak pengungsian yang berada di perbukitan, membuat para pengungsi sulit memenuhi kebutuhan harian. Air salah satunya. Kebutuhan yang mesti terpenuhi setiap hari ini justru yang cukup sulit mereka dapatkan di pengungsian. Seperti yang terjadi di Desa Wainuru, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Lukman Solehuddin dari tim Disaster and Emergency Response (DERM) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjelaskan, warga mesti mengantre untuk mengambil air konsumsi dan sanitasi setiap harinya. Untuk mengambil air pun, mereka mesti menampung dari bocoran pipa PDAM yang melintang di sepanjang perbukitan karena tidak ditemukan sumber air di perbukitan tersebut.

“Para penyintas kini memanfaatkan pipa air PDAM yang bocor untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka. Mereka mengambilnya menggunakan jeriken dan membawanya ke bukit-bukit tempat mereka mendirikan tenda pengungsian,” kata Lukman pada Rabu (9/10).


Salah satu kondisi tenda pengungsian warga di Wainuru. (ACTNews/Rahman Ghifari)

Warga juga mengungsi seadanya menggunakan terpal-terpal bekas yang mereka peroleh dan membuatnya menjadi tenda darurat. Sanitasi yang sulit ditambah kondisi pengungsian tak layak, membuat kesehatan warga menjadi rentan terhadap penyakit.

ACT melakukan aksi pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi hal tersebut. Selain mendirikan posko layanan kesehatan, tilm layanan kesehatan ACT juga berpindah dari satu titik ke titik pengungsian lainnya. Dokter Wiwi Padudung dari tim medis ACT yang bertugas mengatakan, kebanyakan pasien menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gatal-gatal dan diare.

“Kebanyakan pasien yang menderita ISPA dan gatal-gatal itu anak-anak, kemudian ada juga diare. Itu terjadi karena keadaan yang tidak memungkinkan atau dapat dikatakan kurang layak bagi mereka. Lalu kondisi kebersihan yang sudah tidak terjaga,” kata dr. Wiwi.

Jumlah pengungsi mengacu pada data tim ACT di lapangan, sampai Ahad (6/10) kemarin masih ada sekitar 135.000 jiwa warga yang mengungsi. Warga memilih bertahan di lokasi pengungsian dan belum bersedia kembali ke rumah mereka. Hal ini karena gempa susulan yang terus terjadi hingga 1.105 kali gempa susulan, dan 118 di antaranya dapat dirasakan. []

Bagikan