Pengungsi ICS Sigi Ikuti Pelatihan Usaha Bawang Goreng Dermawan

Melalui pelatihan ini, diharapkan usaha Bawang Goreng Dermawan bisa lebih berkembang lagi agar para pengungsi gempa Palu, Sigi, Donggala dapat bangkit dari dampak bencana tersebut.

Pengungsi ICS Sigi Ikuti Pelatihan Usaha Bawang Goreng Dermawan' photo
Sebanyak 24 ibu-ibu perwakilan dari tiga ICS di Sigi menjadi peserta pelatihan. (ACTNews/Redaksi)

ACTNews, SIGI - Sebanyak 24 ibu-ibu dari pengungsi di Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS) yang dikelola oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Kabupaten Sigi, mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas usaha untuk Kelompok Bawang Goreng Palu. Puluhan peserta tersebut merupakan perwakilan kelompok yang berasal dari 3 ICS, yakni ICS Sidera, ICS Soulowe, dan ICS Langaleso.

Materi yang diberikan pada Sabtu (26/9) silam itu berkenaan dengan motivasi wirausaha, manajemen keuangan kelompok, manajemen pemasaran, dan dinamika kelompok. Materi-materi yang disampaikan di Gedung BPPL Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru itu disampaikan oleh Komunitas Tangan Diatas (TDA), lembaga ESQ, dan Dinas UMKM setempat.

Wahyu Nur Alim dari tim Wakaf Development Program (WDP) – ACT mengatakan bahwa tim akan terus mengembangkan kelompok usaha ini. Harapannya mereka dapat bangkit dari gempa sekuat M7,4 yang kurang lebih satu tahun lalu menerpa mereka itu.

“Harapannya dengan adanya kelompok usaha bawang goreng ini, pengungsi yang tinggal di ICS setelah lepas dari ICS bisa punya biaya untuk paling tidak mengontrak rumah. Karena untuk aktivitas ICS ini kita diberikan waktu sampai lima tahun ke depan,” kata Wahyu pada Selasa (15/10) ini.


Kegiatan produksi yang dilakukan pada bulan Mei lalu. (ACTNews/Chandra)

Oleh karenanya, salah satu pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui merek Bawang Goreng Dermawan ini. Peminat usaha ini pun meningkat, dari yang bulan Mei lalu hanya sekitar 20 orang, kini sudah mencapai sekitar 60 orang. Wahyu menjelaskan, produksinya juga sudah bisa mencapai paling banyak sekitar 300 bungkus dalam sekali produksi.

“Bahan baku kita dapatkan dari Desa Solowe dan biasanya kita beli sebanyak 100 kilogram bawang merah jenis batu ini. Biasanya setelah diolah kita bisa dapat 30 kilogram bawang yang sudah jadi atau sekitar 200 sampai 300 bungkus,” jelasnya.

Rentang waktu produksi kata Wahyu bisa satu hingga dua minggu sekali. Rencananya bila memang diperlukan, Wahyu juga ingin agar kelompok usaha mendapatkan pelatihan untuk penjualan daring agar bisa dipasarkan lebih luas lagi.

“Rencananya untuk pelatihan-pelatihan ini memang kita akan adakan selama empat bulan sekali, sesuai dengan kebutuhan kelompok juga. Misalkan untuk selanjutnya mereka membutuhkan pelatihan online selling itu, nanti bisa kita kondisikan,” ujar Wahyu.

Namun untuk saat ini tim masih memfokuskan bagaimana meningkatkan penjualan dan membuka jaringan sebanyak-banyaknya. Maka dari itu, tim juga kerap membawa produk bawang goreng ini di pameran-pameran baik lokal maupun nasional. Seperti Hijrah Fest di Palu beberapa waktu lalu, di mana tim sempat mempromosikan Bawang Goreng Dermawan. []

Bagikan