Pengungsi Internal Mali Hadapi Ramadan dalam Ketegangan Konflik

Hingga sekarang para pengungsi internal Kamp Pengungsian Mopti tengah kesulitan memasok bahan pangan.

Pengungsi Internal Mali Hadapi Ramadan dalam Ketegangan Konflik' photo

ACTNews, MOPTI - Kota Mopti, pusat konflik Mali, kerap dikabarkan menjadi daerah yang paling rawan. Pasalnya, serangan belakangan terjadi di  kota terbesar ketiga di Mali ini, menargetkan penduduk etnis Fulani atau Peuhl yang sebagian besar beragama Islam.


Serangan sepihak pun menyebabkan banyak korban jiwa dari pihak etnis Fulani. Melansir Al Jazeera, pejabat lokal dan pihak keamanan menyebutkan, jumlah korban tewas telah meningkat yakni sebanyak 160 jiwa. Sementara menurut Dewan HAM PBB, setidaknya 153 jiwa meninggal dunia dan 73 lainnya cedera.  


Serangan mengerikan itu pun menjadi tanda terjadinya peningkatan kasus kekerasan di Kota Mopti. Berdasarkan data yang dihimpun Relief Web pada April lalu, sedikitnya ada 600 kematian yang terjadi akibat serangan, dan ribuan warga Mali terlantar di tenda pengungsian, sejak Maret 2018.




Pekan pertama Ramadan, relawan lokal Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Mali menyambangi pengungsi internal di Kota Mopti, Sabtu (11/5). Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response mengabarkan, ada ratusan keluarga yang tinggal di Kamp Pengungsian Mopti, kamp khusus yang disediakan Pemerintah Mopti.


“Kebanyakan dari mereka mengungsi karena merasa tidak aman apabila tetap berada di kampung halamannya,” ungkap Faradiba.


Selain khawatir akan ketegangan konflik yang ada, hingga sekarang para pengungsi internal Kamp Pengungsian Mopti tengah kesulitan memasok bahan pangan, terutama saat Ramadan. Sehingga, kedatangan relawan lokal ke Kamp Pengungsian Mopti juga bertujuan untuk meringankan beban para pengungsi.


“Mereka datang untuk menyampaikan amanah kepedulian masyarakat Indonesia untuk membantu warga Mali yang terdampak konflik. Bantuan itu berupa bantuan pangan dan perlengkapan kebersihan, dan menyasar 166 keluarga yang kini menjadi pengungsi internal di Kamp Pengungsian Mopti,” terang Faradiba.




Dimulai pada siang hari, pendistribusian berjalan dengan lancar. Seluruh bantuan pangan dan perlengkapan kebersihan sudah terjajar di lapangan tanah khas bagian negara Afrika ketika para pengungsi internal Kamp Mopti berdatangan. Kemudian, satu per satu pengungsi berbaris di belakang setiap bantuan pangan yang telah mereka pilih.


Bantuan pangan dan perlengkapan kebersihan di Kamp Mopti sendiri menjadi rangkaian bantuan kemanusiaan kedua atas komitmen dan  kerja sama ACT dengan Kitabisa.com untuk membantu korban terdampak serangan Mali.


“Alhamdulillah, kami telah merampungkan amanah kepedulian masyarakat Indonesia untuk Mali. Semoga dapat meringankan beban mereka di kamp pengungsian, terutama saat menjalani Ramadan,” tutur Faradiba.  []

Bagikan

Terpopuler