Pengungsi Rohingya Jalani Layanan Kesehatan Berkala

Tim medis Aksi Cepat Tanggap melakukan pelayanan kesehatan di kamp pengungsi Rohingya di gedung imigrasi, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Sabtu (4/2). Layanan ini dilengkapi dengan kehadiran ambulans prehospital untuk kondisi darurat.

Pengungsi Rohingya Jalani Layanan Kesehatan Berkala' photo
Julia Pitri, relawan medis MRI-ACT Kota Lhokseumawe menjelaskan aturan pemakaian obat kepada Ziabur Rahman (dua dari kiri) dan Syuhail (kiri), pengungsi anak yang berobat ke layanan kesehatan ACT. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, LHOKSEUMAWE – Relawan perawat Masyarakat Relawan Indonesia - ACT Lhokseumawe Julia Pitri secara detil menjelaskan petunjuk pemakaian obat batuk. Kalimatnya pendek-pendek. Pandangannya sesekali berganti ke arah Syuhail (10) dan Ziabur Rahman sebagai penerjemah. “Sebelum diminum, dikocok dulu ya. Lalu dicampur air putih. Sehabis makan,” kata Julia, tangannya mengayun botol ke atas-bawah secara cepat,

Julia berharap orang tua Syuhail hadir di situ. Ia khawatir Syuhail tidak meminum obat secara rutin atau ada dosisnya kurang tepat. Namun, Syuhail memang seorang diri di dalam kelompok Rohingya yang terdampar di pesisir Aceh Utara Rabu pekan lalu–tanpa orang tua. Julia lalu menuliskan dengan spidol aturan kali pemakaian di kardus pembungkus botol. Tulisannya cukup besar: 3x1.

“Mohon bantuannya ya Pak, dipantau minum obatnya,” kata Julia sembari menyerahkan obat milik Syuhail kepada Ziabur Rahman.

Syuhail adalah salah satu pengungsi anak Rohingya yang ikut menikmati layanan kesehatan pada Sabtu (4/6). Menurut pemeriksaan dr. Separta Graha, relawan dokter ACT yang bertugas hari itu, kondisi sejumlah anak memang masih sedikit kelelahan, efeknya bisa batuk. Hal itu bisa disebabkan kondisi lingkungan.


Tim Medis ACT mengukur suhu tubuh pengungsi Rohingya saat menjalani pemeriksaan kesehatan. (ACTNews/Gina Mardani)

Sejauh ini, lanjut dr. Separta, kondisi kelelahan juga masih dialami sebagian pengungsi, termasuk orang dewasa. “Kami meminta para pengungsi istirahat yang cukup, minum air putih, dan makan yang baik,” kata dokter dari rumah sakit PMI itu.

Tim Medis ACT untuk pengungsi Rohinya Melza menerangkan, selain layanan kesehatan berkala, ACT juga menyiagakan Ambulans Pre-Hospital yang berangkat langsung dari Jakarta bersama tiga armada kemanusiaan lain. Sesuai koordinasi dengan tim medis berbagai lembaga yang ada di kamp pengungsian, Ambulans Pre-Hospital ACT dinilai memiliki fasilitas memadai berupa oksigen, ventilator, monitor elektrokardiogram, suction, dan peralatan mendukung lainnya.

“Ambulans Pre-Hospital ACT juga steril sehingga memungkinkan melakukan bedah ringan di dalam. Kabin juga dilengkapi lampu bedah dan CCTV untuk memantau perawatan yang dilakukan paramedis di dalam ambulans,” jelas Melza.

ACT pun menggandeng relawan dokter dan perawat di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe dalam pelayanan kesehatan. “Kami juga membawa stok obat dari Jakarta,” lanjut perawat lulusan Universitas Andalas itu.

Kesehatan pengungsi memang jadi perhatian. Datang di kala pandemi Covid-19, saat tiba di Aceh Rabu pekan lalu, para pengungsi pun langsung menjalani tes cepat oleh otoritas kesehatan Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara.[]


Bagikan