Pengungsi Rohingya Kian Rentan Terserang Penyakit

Tinggal di kamp pengungsian yang kumuh, cuaca buruk, dan minim makanan bergizi membuat para pengungsi Rohingya di Kamp Pengungsian Cox’s Bazar rentan terserang penyakit.

Pengungsi Rohingya Kian Rentan Terserang Penyakit' photo

ACTNews, COX’S BAZAR – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan kasus dugaan campak dan rubela di kamp pengungsian Rohingya akhir Juni lalu. Hingga pekan ke-26 tahun 2019, total 286 dugaan kasus campak dilaporkan pada laporan mingguan dan 158 kasus dilaporkan melalui formulir khusus kasus campak. Bandan Anak-anak PBB menyebut, minimnya air dan sanitasi yang bersih menjadi sumber penyakit tersebut.

Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) melaporkan, sejumlah penyakit yang muncul menunjukkan rendahnya kualitas kebersihan air bahkan rendahnya imunisasi yang diterima pengungsi Rohingya. Pada Agustus 2017 dan Maret 2019, MSF merawat 7.032 pasien difteri, 4.987 pasien campak, dan 99.681 diare.

Presiden MSF Joanne Liu meminta Indonesia tidak tinggal diam melihat kasus Rohingya. “Apalagi Anda memiliki kedekatan dengan komunitas Rohingya, jadi Anda harus terus membantu mereka,” kata Liu kepada Tempo, dirilis 23 Mei lalu.

Kurangnya layanan kesehatan khusus untuk pengungsi menjadi masalah serius. Tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai, termasuk kapasitas bedah 24 jam yang berkualitas baik, perawatan kebidanan dan neonatal yang komprehensif, layanan anak, dan perawatan untuk penyakit tidak menular; termasuk kesehatan mental dan penyakit kronis.


Berbagai tindakan medis pun dilakukan sejumlah pihak, mulai dari pemerintah Bangladesh sampai sejumlah lembaga kemanusiaan internasional. Tindakan medis yang dilakukan antara lain pemberian imunisasi, memberikan pangan bergizi, dan menjaga sanitasi di kamp pengungsian.

Bulan Juli ini, hujan badai bahkan membuat kamp pengungsian Rohingya dilanda banjir dan tanah longsor. Salah satu aktivis kemanusiaan di Bangladesh, Gabriela Luz-Meillet, mengatakan hujan badai menyebabkan wabah penyakit di kamp-kamp pengungsi Rohingya. Ratusan ribu orang tinggal di tempat penampungan sementara, di bukit lumpur padat. “Bukit-bukit itu bisa longsor. Ada pengungsi yang tinggal hari ini dan mungkin tidak akan bertahan sampai akhir musim hujan,” kata Meillet, dikutip dari Reliefweb.

Bahkan menurut Meillet, para pengungsi itu kini tidak tahu cara bertahan hidup di cuaca yang ekstrem sebab mereka kini tinggal di tenda-tenda. “Mereka bingung dan takut. Mereka mengatakan tidak memiliki pengetahuan dan sumber daya untuk bertahan hidup di lingkungan baru yang berbeda ini,” lanjut Meillet.

Bahkan, menurutnya, wanita berada dalam bahaya yang lebih besar daripada laki-laki. “Mereka sering dikurung di rumah mereka dan tidak tahu bagaimana menemukan tempat berlindung atau untuk mendapatkan bantuan,” ungkap Meillet.[]

Bagikan