Pengungsi Rohingya: “Manusia Perahu” Melintas Samudra Bertaruh Nyawa

Tiga hari sejak menepi dari samudra, tiga orang pengungsi Rohingya yang tiba Senin (7/9) di Pesisir Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, meninggal dunia. Nur Khalimah (22) meninggal Rabu (9/9), Helal (21) meninggal Kamis (10/9), disusul Sanowara Begum (11/9) Jumat dini hari.

Pengungsi Rohingya: “Manusia Perahu” Melintas Samudra Bertaruh Nyawa' photo
Pemakaman Nur Khalimah (21) dilakukan di TPU Kuta Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. (ACTNews/Amanda Jufrian)

ACTNews, LHOKSEUMAWE – Nur Khalimah (21) kini telah beristirahat dengan tenang setelah mengarungi samudra setengah tahun dalam kondisi memprihatinkan. Pemuda Rohingya itu ada dalam rombongan 295 pengungsi yang menepi di pesisir Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (7/9) dini hari.

Ia sempat mengalami kondisi kritis dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia. Kondisi Nur Khalimah sempat membaik, ia pun dipulangkan ke pengungsian balai latihan kerja milik Pemerintah Lhokseumawe di Desa Blang Mee, Kandang, Kecamatan Muara Satu. Sore hari, Nur Khalimah mengalami kejang dan meninggal dunia.

“Selasa pukul 18.30 WIB meninggal. Dimakamkan Rabu (9/9) di tempat pemakaman umum Desa Kuta Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe,” jela Hidayatullah dari Tim Program ACT Lhokseumawe.

Air mata pun tidak mampu dibendung pengungsi Rohingya lain yang ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman. ACT Lhokseumawe beserta seluruh relawan Masyarakat Relawan Indonesia pun turut menemani dan mendampingi proses pemakaman hingga selesai.

Nur khalimah, memulai perjalanan melintasi samudra hampir tujuh bulan lalu. Ia satu kapal bersama Helal (21) yang meninggal Kamis (10/9) di RSCUM, dan Sanowara Begum yang meninggal Jumat (11/9) dini hari juga di rumah sakit. Mereka menaiki kapal menyeberangi samudera mempertaruhkan segala berharap mendapatkan penghidupan yang lebih baik. 

Dalam laporan Tempo yang diterbitkan pada Februari 1992, pengungsi Rohingya telah disebut “Orang Perahu dari Myanmar”. Mereka melintasi Sungai Naf yang lebarnya lima kilometer yang menjadi perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Sementara, Kompas melaporkan, masyarakat Aceh pada 2011 juga menyebut etnis Rohingya yang pertama kali terdampar di Pantai Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar dengan sebutan manusia perahu. Kala itu, mereka mengevakuasi 129 pengungsi setelah menarik kapal kayu ke pantai.

Hampir setiap tahun pengungsi Rohingya terdampar di Aceh. Tahun 2018, Aksi Cepat Tanggap dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh bergegas menuju pesisir Pantai Kuala Raja. ACT pun membangun huntara untuk pengungsi Rohingya di Aceh.

Tahun 2020, Juli lalu, ACT mengerahkan armada kemanusiaan Humanity Food Truck, Humanity Water Truck, dan ambulans prehospital untuk melayani kebutuhan pangan dan kesehatan 99 pengungsi Rohingya yang tiba di Lhokseumawe. Begitu pun untuk pengungsi Rohingya yang baru saja tiba. Bantuan terbaik akan diikhtiarlan.

Sejauh ini, pemerintah Lhokseumawe telah menyediakan pengungsian bagi para pengungsi Rohingya di balai latihan kerja di Desa Blang Mee, Kandang, Kecamatan Muara Satu. ACT bersama lembaga kemanusiaan lainnya sejauh ini mengambil peran dalam pendampingan.

“Bersama kita lakukan yang terbaik untuk saudara Rohingya. Aksi Cepat Tanggap tentu tidak bisa sendiri, semua yang telah kita lakukan tidak lepas dari dukungan para relawan dan dermawan,” kata Hidayatullah.

Saat ini, sejumlah pengungsi Rohingya masih menjalankan perawatan di Rumah Sakit Umum Cut Meutia. Mereka mengeluhkan sakit di bagian perut dan bengkak kaki akibatkan terlalu lama berada di tengah lautan dalam kapal yang kecil dan sempit. 

“Mereka amat rentan, tidak punya kewarganegaraan, tidak punya akses pendidikan, hanya kalimat Tauhid saja warisan yang mereka punya dari generasi sebelum mereka,” tutup Hidayatullah.[]

Bagikan