Pengungsi Rohingya Turut Hadapi Karantina Wilayah di Masa Pandemi

Kamp yang sangat padat dapat menjadi risiko di tengah pandemi Covid-19. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengindikasikan ada lebih dari 31.500 pengungsi berusia 60 tahun atau lebih di kamp-kamp tersebut.

Pengungsi Rohingya Turut Hadapi Karantina Wilayah di Masa Pandemi' photo
Pengungsi anak Rohingya di Kamp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh belajar di tenda darurat pada Desember 2017. (ACTNews/Erwin Santoso)

ACTNews, COX’S BAZAR – Pemerintah Bangladesh melalui Komisaris Pengungsi dan Pemulihan Korban Bangladesh (RRRC) memberlakukan karantina wilayah (lock down) penuh terhadap Distrik Cox’s Bazar pada akhir Maret lalu. Cox’s Bazar merupakan distrik tempat ratusan ribu pengungsi Rohingya. Bangladesh menutup 34 permukiman di pengungsian Rohingya di Distrik Cox's Bazar, sebagaimana dikabarkan Anadolu Agency.

Walaupun tidak satu pun kasus yang terkonfirmasi di kamp pengungsian Rohingya, 20 kematian dalam lima hari terakhir per Kamis (9/4) lalu membuat otoritas Bangladesh memberlakukan karantina wilayah, dilansir dari Radio France Internationale.

Amnesty International menyatakan pengungsi Rohingya lanjut usia di kamp pengungsian kini menghadapi kenyataan mengkhawatirkan. Kamp yang sangat padat dapat menjadi risiko di tengah pandemi Covid-19. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengindikasikan ada lebih dari 31.500 pengungsi berusia 60 tahun atau lebih di kamp-kamp tersebut.

Hanya satu dari 15 orang tua yang diwawancarai oleh Amnesty International mengaku mendapatkan informasi dari sosialisasi langsung ke tempat kamp mereka. Beberapa lainnya menerima berita melalui anggota keluarga. Sebagian besar mendengar dari para pemimpin agama dan tetangga. Selain informasi bahwa virus corona sangat berbahaya, mereka juga diimbau untuk hidup bersih.

"Saya tidak mendengar hal-hal baru. Orang-orang hanya mengatakan, 'suatu penyakit akan datang, berdoa’," kata Abdu Salaam (70), dilansir dari Amnesty.org. Pria baya itu memiliki cacat fisik yang membuatnya tidak dapat berjalan dengan baik. Dia juga tidak memiliki akses ke perawatan yang memadai.

Karantina wilayah juga berdampak pada penutupan pusat belajar anak-anak di Kamp pengungsian. Meskipun pusat pembelajaran telah ditutup sementara sebagai tindakan pencegahan Covid-19, UNICEF bertindak menyediakan sabun dan air bersih bagi sejumlah pengungsi kamp.

Selain itu, sementara anak-anak tidak dapat menghadiri kegiatan di pusat-pusat pembelajaran, para guru tetap mengambil peran mengingatkan anak didik bahkan keluarga mereka.

“Saya memberi tahu anak-anak agar mereka menjaga kebersihan tangan dan memberitahu anggota untuk menggunakan sabun dan air. Mereka tahu bahwa menjaga kebersihan tangan akan mengurangi kemungkinan mereka jatuh sakit,” cerita Nazum, salah satu guru di kamp pengungsian Rohingya kepada UNICEF. []


Bagikan

Terpopuler