Pengungsi Suriah dan Palestina di Lebanon Sangat Butuh Bantuan Kemanusiaan

Krisis ekonomi di Lebanon membuat kehidupan pengungsi Suriah dan Palestina di di negara itu ikut terpuruk. Mereka hanya mampu mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Ilustrasi. Anak-anak pengungsi di Lebanon berharap dapat bantuan pangan untuk bertahan hidup. (ACTNews)
Ilustrasi. Anak-anak pengungsi di Lebanon berharap dapat bantuan pangan untuk bertahan hidup. (ACTNews)

ACTNews, BEKAA – Krisis ekonomi di Lebanon menyebabkan berdampak pada kehidupan pengungsi Suriah dan Palestina di sana. Di wilayah Bekaa, Lebanon contohnya, di mana sekitar 200 ribu pengungsi Suriah dan Palestina hidup. Imbas krisis di Lebanon, para pengungsi yang sebelumnya telah mendapatkan pekerjaan, terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja sehingga kehilangan pemasukan untuk keluarganya.

"Karena ekonomi Lebanon ambruk dan menyebabkan harga makanan jadi sangat tinggi. Warga Lebanon saja sudah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, apalagi para pengungsi yang  istilahnya hanya menumpang di sana," ujar Syekh Ziad Ridwan Taktak, Imam di Masjid Hariri, Bekaa, Lebanon saat berkunjung ke kantor ACT, Kamis (29/4/2021).

Syekh Ziad menjelaskan, untuk kebutuhan pangan sehari-hari, mayoritas pengungsi amat bergantung bantuan kemanusiaan. Jika mereka tidak mendapatkan bantuan makanan pada hari itu, maka di hari itu pula mereka tidak akan makan sepanjang hari.

Selain kebutuhan atas makanan, Syekh Ziad juga menerangkan,  para pengungsi juga membutuhkan layanan kesehatan dan obat-obatan. “Banyak dari para pengungsi yang menderita berbagai penyakit dalam, terutama saat musim dingin tiba,” jelas Syekh Ziad.

Bekaa merupakan wilayah yang paling dingin ketimbang wilayah Lebanon yang lain. Bahkan dulu, menurut keterangan Syekh Ziad, di Bekaa dulu tidak ada penduduk. “Yang pertama menempati wilayah itu hanya para pengungsi saja. Dengan segala keterbatasan dan keterpaksaan mereka harus tinggal di sana," ujar Syekh Ziad.

Kondisi dingin makin diperparah dengan hunian mereka yang sangat sederhana. Tidak ada bangunan tetap di sana. Para pengungsi hanya tinggal di tenda-tenda sederhana, yang masih dapat ditembus oleh dinginnya angin malam.

Maka dari itu, Syekh Ziad menuturkan bahwa bantuan harus terus diberikan pada para pengungsi di sana, agar mereka dapat terus bertahan hidup. Tidak hanya pangan, namun juga obat-obatan dan pakaian hangat.[]