Pengungsi Suriah: Sulitnya Mendapat Pekerjaan di Lebanon

Meski mengungsi di Lebanon dirasa lebih aman karena jauh dari konflik, belum banyak pengungsi Suriah yang mampu beradaptasi demi bisa bertahan hidup. Kesempatan kerja bagi penduduk lokal sendiri jumlahnya terbatas, apalagi untuk para pengungsi Suriah.

ACTNews, ARSAL- Baik Turki, Yordania, maupun Lebanon sudah lama menjadi pilihan paling masuk akal bagi jutaan warga Suriah yang ingin melarikan diri dan mengungsi. Berdasarkan letak geografis, ketiga negara itu memang berbatasan langsung dengan Suriah, hanya tinggal menyeberang gerbang perbatasan. 

Hampir delapan tahun sejak konflik membuat kacau nasib warga Suriah, kebanyakan dari yang mengungsi memilih tinggal di Kota Arsal, sebuah kota di Lebanon yang berbatasan dengan Suriah. Di Kota Arsal, pengungsi Suriah tinggal di kamp dengan kondisi yang serba seadanya. 

Meski Lebanon dirasa lebih aman karena jauh dari konflik, belum banyak pengungsi Suriah di Kota Arsal yang mampu beradaptasi demi bisa tetap bertahan hidup. “Kesempatan kerja bagi penduduk lokal sendiri jumlahnya terbatas, apalagi untuk para pengungsi Suriah,” ungkap Mustafa Kanaan, mitra Global Qurban di Suriah.   

Menurut Mustafa, penduduk lokal Kota Arsal hanya mengandalkan tiga sumber penghasilan, yakni dari sektor pertanian, perdagangan, dan pemberdayaan 60% dari tenaga kerja yang tinggal di desa. Imbasnya, sebagian kecil pengungsi Suriah hanya bisa bekerja di bidang perdagangan dengan upah yang minim. 

“Belum lagi, segala kebutuhan pokok di Kota Arsal sangat mahal. Makanan, pakaian, layanan medis, bahkan penghangat ruangan harganya bisa melambung tinggi, tidak terjangkau bagi hampir seluruh pengungsi Suriah,” tambah Mustafa. 

Seperti yang dialami Ramez Al Asi (45), salah watu pengungsi Suriah yang tinggal di Kota Arsal, Lebanon. Menurut ceritanya, Ramez pergi melarikan diri dari Suriah ke Kota Arsal bersama tujuh anggota keluarganya. Sebelumnya di Suriah, Ramez bekerja di bidang pertanian. 

“Namun, setelah pindah ke sini (Kota Arsal), pekerjaan baru saya tidak mampu membiayai seluruh kebutuhan anggota keluarga. Untuk sehari-hari sulit, untuk hari raya seperti ini juga sulit. Kami tidak mampu membeli hewan untuk berkurban,” cerita  Arsal. 

Arsal menjadi salah satu pengungsi Suriah di Lebanon yang mendapat daging kurban dari Global Qurban, Iduladha 2018 lalu. Membawa amanah kurban dari Indonesia, mitra Global Qurban di Lebanon menyambangi sejumlah kamp pengungsian di Kota Arsal dan juga Lembah Bekaa. 

“Alhamdulillah, kami sudah merampungkan pendistribusian kurban untuk sebanyak 546 pengungsi Suriah. Kami berharap, Iduladha 2019, kami dapat kembali ke sini (Lebanon) dengan membawa amanah kurban dari Indonesia,” pungkas Mustafa. []