Pengungsi Suriah Terancam Hadapi Musim Dingin Mematikan

Setiap tahun, musim dingin datang dan menjadi salah satu kekhawatiran terbesar bagi pengungsi Suriah. Musim dingin semakin mengancam jiwa pengungsi Suriah karena harus dihadapi tanpa tempat tinggal yang layak, tanpa pemanas ruangan, bahkan tanpa kesediaan bahan makanan.

Pengungsi Suriah Terancam Hadapi Musim Dingin Mematikan' photo
Tanpa penghidupan yang layak, musim dingin adalah mimpi buruk bagi sebagian besar keluarga di Idlib. (ACTNews)

ACTNews, ALEPPO, IDLIB – “Mimpi buruk” itu hampir segera datang. Ia menjadi hal yang tidak bisa dihindari atau pun benar-benar dilawan: musim dingin. Badan Anak-anak PBB melaporkan, diperkirakan 1,3 juta anak dalam bahaya di musim dingin yang bersuhu hingga mencapai titik beku itu.

Iman, seorang ibu dari Aleppo, mengira anak-anaknya sudah terlindungi dari ancaman perang dan kematian ketika ia meninggalkan tempat tinggalnya. Setelah kehilangan suami dan rumahnya, Iman meninggalkan Aleppo tanpa membawa sesuatu pun untuk mengungsi. Kenyataannya, mereka belum benar-benar aman. Musim dingin mengancam nyawa Iman dan anak-anaknya,

Iman harus kehilangan dua orang buah hatinya saat musim dingin datang. Bayi Iman meninggal dunia karena kedinginan. Saat itu Iman tengah berusaha memberikan susu hangat, namun dingin lebih dulu merenggutnya. Beberapa minggu kemudian, anak perempuannya juga meninggal dunia. Kelaparan membuat anak perempuan Iman tidak dapat melawan sakit yang dialaminya.


Pengungsi di Suriah membutuhkan lebih banyak penghangat suhu ketika musim dingin datang. Suhu beku mengancam nyawa para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda, terlebih anak-anak. (ACTNews)

Ketika temperatur turun drastis, gubuk mereka yang sudah rapuh pun rusak karena badai salju dan suhu di bawah titik beku. Basah dan kedinginan tanpa baju hangat. Anak-anak Iman harus berhadapan dengan musim dingin yang mematikan dalam suhu yang tidak dapat diprediksi.

Sementara itu di Idlib, Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, musim dingin juga mencekam para pengungsi di wilayah Idlib yang tinggal di tenda-tenda. Dari jutaan pengungsi, kata Firdaus, tidak semua dari mereka memiliki persediaan pangan dan sandang untuk musim dingin. “perlengkapan musim dingin, bahan bakar, dan selimut adalah hal-hal yang mereka butuhkan. Jumlah pengungsi di Idlib jutaan dan masih sangat banyak yang tinggal di tenda-tenda,” kata Firdaus kepada ACTNews, Selasa (15/10).

Musim dingin selalu menjadi masa-masa yang menantang bagi para pengungsi. The Guardian pertengahan Januari lalu melaporkan, setidaknya 11.000 pengungsi anak dan keluarga mereka menghadapi suhu dingin tanpa tempat berlindung. Hujan lebat di Provinsi Idlib pun sempat menyapu tenda dan barang-barang pengungsi. []

Bagikan