Pengungsi : Warga Papua Sangat baik, Mereka Seperti Saudara Sendiri

Beberapa pekan lalu, ribuan orang melarikan diri dari Wamena akibat pecahnya konflik kemanusiaan. Tak sedikit dari mereka mempunyai kenangan manis dari hubungan baik yang terjalin dengan penduduk asli Papua.

Pengungsi : Warga Papua Sangat baik, Mereka Seperti Saudara Sendiri' photo
Wintari bersama anaknya, Pikram, di Bandara Sentani, Senin (7/10). Ia hendak pulang ke Sulsel setelah beberapa pekan mengungsi di Sentani akibat konflik kemanusiaan di Wamena. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAYAPURA – Siang itu, Rabu (9/10), Wintari (34) menemani anaknya yang sedang bermain dalam kegiatan pendampingan psikososial dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) di lokasi pengungsian yang berada di depan Rumah Sakit Bhayangkara, Jayapura. Keceriaan terpancar dari wajahnya. Berkali-kali suara tawa keluar dari bibirnya dengan lepas. Tak hanya Wintari, sejumlah orang tua juga mengantar anak mereka mengikuti kegiatan psikososial. 

Ada puluhan anak yang ikut kegiatan psikososial yang diadakan oleh ACT. Mereka diajak beraktivitas dan bergembira untuk melupakan trauma yang mungkin menghantui mereka. Anak-anak itu diajak bernyanyi, menari dan juga tebak-tebakan dengan dibimbing sejumlah relawan psikososial. Kecerian terpancar dari semua peserta yang merupakan pengungsi dari konflik sosial Wamena, Jayawijaya.

Hari itu kondisi pengungsian tempat Wintari sementara tinggal tak seramai biasanya. Lebih dari seribu jiwa dikabarkan sudah bergerak menuju Pelabuhan Jayapura untuk menumpang KRI Sinabung yang akan berlayar menuju Bau-bau, Makassar hingga berakhir di Surabaya. Namun, tidak dengan Wintari yang bertahan di pengungsian dan telah mendaftarkan diri dan anak-anaknya menumpang pesawat hercules untuk kembali ke Wamena.

“Suami saya masih di Wamena, katanya sudah lebih kondusif walau diminta untuk terus waspada. Kepala desa saya juga demikian bilangnya,” ungkap Wintari kepada ACT, Rabu (9/10).

Sejak hari pertama konflik di Wamena, Wintari dan anak-anaknya menyelamatkan diri ke Jayapura. Mereka merasa takut dan trauma. Walau begitu, ia tak lepas kabar tentang Wamena dari suami dan kepala desa tempatnya tinggal. Keputusannya untuk kembali ke Wamena dalam waktu dekat juga karena sering mendapatkan kabar kondisi di sana.

Hingga hari Rabu (9/10), setidaknya lebih dari seratus orang di pengungsian di depan RS Bhayangkara telah mendaftarkan diri untuk menumpang pesawat kembali ke Wamena. Mereka dijadwalkan dalam dua atau tiga hari ini akan kembali ke ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu.

“Saya berani ke Wamena karena ada suami saya, juga kepala desa dan tetangga saya orang Papua asli sangat baik terhadap kami semua, sudah seperti saudara, bahkan saya mengungsi ke Jayapura waktu itu juga diminta mereka untuk mengamankan diri,” kenang Wintari.


Wintari (kanan) dan Naya (kiri) warga Wamena yang mengungsi di depan RS Bhayangkara, Jayapura, Rabu (9/10). Selama di pengungsian, Wintari tak pernah lepas kabar tentang Wamena dari suami dan kepala desa tempatnya tinggal. (ACTNews/Eko Ramdani)

Perasaan yang sama juga diungkapkan Ahmad Jumairi (41), warga Wamena asal Probolinggo, Jawa Timur. Walau ia belum memutuskan kapan bakal kembali ke Wamena, namun kenangannya akan suasana ramah tempatnya merantau itu masih membekas. Pria beranak dua itu menjadi tukang ojek di kabupaten yang berada di ketinggian pegunungan Jayawijaya itu.

“Pelanggan saya sebagian besar warga asli Papua, mereka sangat baik, tak jarang memberikan uang tip bahkan lebih besar dari pada ongkosnya,” kenang Ahmad yang mengungsi di Yonif 751/Sentani, Jayapura, Kamis (8/10).

Ungkapan serupa diutarakan Yahya (44) warga Wamena asal Sulawesi Selatan. Walau baru satu tahun Yahya tinggal di Wamena, ia telah menganggap warga Papua sebagai saudara kandungnya sendiri. Ketika konflik pecah pada Senin (23/9) lalu, warga asli Papua lah yang menyelamatkan nyawa istri, kedua anaknya yang masih balita dan juga nyawanya sendiri.

Sebelum berangkat kembali ke Sulawesi Selatan bersama rombongan pengungsi yang difasilitasi ACT, Senin (7/10), Yahya menuturkan bagaimana keluarganya selamat dari konflik kemanusiaan itu. Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan itu selamat atas pertolongan warga asli Papua. “Saya diminta duduk di dalam bak truk, sedangkan warga Papua yang berdiri agar dari luar truk hanya mereka yang terlihat. Lalu kami dibawa ke pos keamanan yang pada waktu itu menjadi lokasi teraman, sedangkan rumah sewa saya terbakar beserta semua isinya,” tuturnya kepada ACT.

Untuk sementara waktu, Yahya dan keluarga kembali ke Sulsel untuk menyembuhkan trauma. Namun, Yahya bertekad akan kembali lagi ke Wamena walau belum tahu kapan waktunya.[]

Bagikan