Pengungsi Yaman Bertambah, Krisis Tempat Tinggal Menjulang

Jumlah pengungsi yang terus bertambah, membuat kebutuhan tenda pengungsian melonjak. Banyak dari pengungsi akhirnya membangun tenda ala kadarnya, yang terbuat dari plastik.

krisi tempat tinggal yaman
Pengungsi yang terus bertambah di Yaman membuat kebutuhan tenda pengungsi meningkat. (Oxfam/Ruth James)

ACTNews, MARIB – Konflik yang saat ini masih terus terjadi di Yaman, membuat jumlah pengungsi juga terus meningkat tiap harinya. Di provinsi Marib, peningkatan jumlah pengungsi telah membuat kebutuhan akan tempat berlindung atau tenda pengungsian melonjak. Hal ini lah yang disampaikan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Berdasarkan laporan langsung UNHCR di Marib, menunjukkan bahwa kondisi pemukiman para pengungsi yang sangat menyedihkan. Terjadi kelebihan kapasitas tampungan di kamp pengungsian. Di mana ada hampir 190.000 pengungsi di sana.

Tempat penampungan tidak memadai, dan banyak tenda yang sudah rusak. Kerusakan tersebut, disebut UNHCR, disebabkan oleh berbagai hal. Di antaranya banjir ketika musim hujan, ataupun kebakaran baru-baru ini yang terjadi karena pengunsi yang memasak dengan api terbuka.

Mengingat sumber daya yang langka dari minimnya bantuan kemanusiaan yang datang, sejumlah keluarga pengungsi terpaksa membangun tenda pengungsin mereka sendiri. Mereka membangunnya menggunakan selimut tua dan terpal plastik.

UNHCR juga mencatat fakta bahwa 9 dari 10 pemukiman dibangun tanpa perjanjian hunian. Sehingga para pengungsi juga memiliki ketakutan tersendiri karena ada ancaman yang tinggi bahwa tempat mereka bernaung bisa digusur kapanpun.

Selain masalah tenda pengungsian, UNHCR menyebut terdapat banyak masalah lainnya yang membelenggu para pengungsi internal Yaman di Marib. Di antaranya kesulitan air bersih, sanitasi yang buruk, hingga fasilitas kesehatan sangat terbatas. Hanya 21 persen penduduk yang dapat dijangkau oleh organisasi

Perempuan dan anak-anak diketahui merupakan 80 persen dari keseluruhan populasi pengungsi. Dengan pilihan tempat tinggal yang terbatas, merekalah yang paling menderita akibat kepadatan di area pengungsian. Kurangnya privasi dan akses terbatas ke layanan dasar, seperti toilet atau air, membuat kehidupan mereka menjadi sangat tidak aman. []