Pengungsi Yaman Memulai Ramadan di Tengah Meroketnya Harga Pangan

Meski gencatan senjata sudah dilakukan, Ramadan di Yaman tetap menegangkan. Jutaan pengungsi terancam mengalami kelaparan akut karena harga pangan yang meroket dan sulit untuk dijangkau.

krisis yaman ramadan
Ilustrasi. Pengungsi Yaman terancam kelaparan saat Ramadan karena harga pangan yang melonjak. (AP/Hani Mohammad)

ACTNews, YAMAN – Para pengungsi di Yaman dapat sedikit bernapas lega. Genjata senjata pihak-pihak yang bertikai di Yaman mulai berlaku pada Sabtu (2/4/2022). Hal ini membuat suasana Ramadan menjadi lebih tenang karena tidak adanya serangan udara yang biasa terjadi di Yaman.

Namun, bukan berarti selesai sudah permasalahan para pengungsi. Yaman saat ini tengah mengalami lonjakan tinggi harga pangan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan konflik antara Rusia dan Ukraina.

Kantor berita Xinhua menyebutkan para pengungsi di Yaman harus menunggu dan mengantre berjam-jam untuk mendapatkan makanan gratis di acara-acara amal pada hari pertama Ramadan.

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children's Fund/UNICEF) memperingatkan bahwa jutaan warga Yaman berisiko mengalami kelaparan akibat konflik bertahun-tahun.

Harga pangan global memang tidak terlepas dari konflik Rusia dan Ukraina yang memiliki daerah penghasil biji-bijian. Kedua negara merupakan salah satu lumbung pangan utama dunia (termasuk Yaman) dengan menyumbang sebagian besar kebutuhan dunia dalam beberapa komoditas, seperti gandum, minyak sayur, dan jagung. Sebagai negara termiskin di wilayah Arab, konflik Rusia-Ukraina telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di Yaman.

Apalagi, Ukraina merupakan negara yang memasok hampir sepertiga dari impor gandum Yaman. Kondisi tersebut telah meningkatkan kekhawatiran akan bencana kelaparan yang semakin parah.

Mohsen Saleh, seorang pengungsi di Ibu Kota Sanaa mengatakan, setiap tahun harga melonjak menjelang Ramadan. Namun, pada tahun ini, lonjakan harga pangan sudah sangat tinggi dan amat sulit dibeli masyarakat. "Situasi ekonomi di Yaman sangat sulit. Mayoritas di sini adalah keluarga miskin," kata pria berusia 43 tahun tersebut.[]